Liputan6.com, Jakarta - Akses informasi mengenai kesehatan reproduksi perlu diperluas agar dapat dijangkau semua orang, termasuk penyandang disabilitas.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN meluncurkan buku panduan inklusif untuk memperluas akses kesehatan reproduksi bagi penyandang disabilitas.
Advertisement
"Hari ini kita memberikan akses seluas-seluasnya, kita berikan pedoman dan edukasi, khususnya bagi penyandang disabilitas yang punya hak yang sama sebagai warga negara untuk mendapatkan informasi yang berkenan dengan hal-hal tentang keluarga berencana, terutama kesehatan reproduksi," kata Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam puncak peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Dalam panduan edukasi kesehatan reproduksi pada remaja inklusif membahas tentang norma dan relasi; seksualitas dan perilaku seksual; kesehatan reproduksi dan permasalahannya; melindungi diri dari kekerasan; serta dukungan dan layanan kesehatan reproduksi.
Saat ini buku panduan yang disebarkan oleh Kemendukbangga masih berupa kumpulan materi dalam huruf braille yang membantu tunanetra. Nantinya, buku panduan tersebut akan diperluas materinya sehingga bisa memberikan manfaat bagi teman-teman disabilitas lainnya.
"Kita semaksimal mungkin untuk memberikan ruang dan akses sebesar-besarnya kepada teman-teman disabilitas, khususnya untuk akses kontrasepsi," ujar dia mengutip Antara.
Wihaji menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan materi-materi dalam buku panduan ini tersampaikan dengan baik kepada sasaran, termasuk para ahli dengan melibatkan tim pendamping keluarga (TPK).
"Tetapi kita bisa mengundang, tidak harus kita langsung yang memberikan edukasi. Kita bisa mengundang ahlinya, kita pastikan ini ada aksesnya, namanya buku panduan, bentuknya braille, di situ banyak hal, kita sudah cek satu-satu dan bertanya kepada ahli bahwa semangatnya adalah memberikan akses kepada teman-teman penyandang disabilitas," ucap Wihaji.