Liputan6.com, Jakarta - Upaya melestarikan warisan budaya dan lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya dengan mengembangkan kain tenun Baduy menggunakan pewarna alami sekaligus memperluas pasarnya.
Creating Shared Value (CSV) Bakti BCA mendorong kain tenun Baduy berpewarna alami untuk masuk ke ekosistem fesyen ramah lingkungan atau ecofashion yang semakin berkembang.
Advertisement
Wastra dari masyarakat adat Baduy tersebut memiliki ciri khas berupa motif garis-garis kotak dan corak geometris. Motif tersebut melambangkan kerukunan, kebersamaan, serta keselarasan hidup masyarakat adat Baduy.
" Sebab, kain ini memiliki keunikan pada motif garis-garis kotak dan corak geometrisnya, yang melambangkan kerukunan, kebersamaan, serta keselarasan hidup masyarakat adat Baduy," ungkap EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, dikutip Rabu (7/10/2026).
Dalam proses pembuatannya, para penenun menggunakan alat tenun tradisional gedogan dan pewarna alami yang diperoleh melalui pelatihan.
Pengembangan tenun Baduy dengan pewarna alami tersebut tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya, tetapi juga melibatkan pemberdayaan komunitas penyandang disabilitas.
Tambahan Penghasilan
Dari program tersebut, sebanyak 1.800 tas diproduksi dengan memanfaatkan 205 lembar kain tenun Baduy pewarna alami. Produk tersebut kemudian digunakan sebagai cendera mata bagi nasabah BCA yang menghadiri BCA Wealth Summit 2026 pada September lalu.
"Kami berharap kehadiran produk wastra warna alam binaan Bakti BCA menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk tenun dengan pewarna alami ke khalayak yang lebih luas," kata Hera.
Pendampingan dan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan juga disebut memberikan dampak ekonomi bagi komunitas perajin.
Sepanjang 2025, tambahan penghasilan penenun dari penjualan kain dan produk turunannya tumbuh 34 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), dengan total mencapai lebih dari Rp 367 juta.