BI: Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Butuh Modal, Inovasi dan Talenta

Gubernur BI, Destry Damayanti menuturkan, pertumbuhan berkelanjutan menciptakan ekonomi yang tidak hanya lebih hijau tetapi juga ciptakan peluang.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 07 Oktober 2026, 19:40 WIB
Pejabat Gubernur BI Sementara Destry Damayanti saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI terkait asumsi dasar RAPBN 2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 2 September 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan membutuhkan tiga fondasi utama, yaitu modal, inovasi, dan talenta. Ketiga faktor tersebut menjadi kunci untuk membangun ekonomi yang lebih kuat, hijau, inklusif, dan tangguh dalam menghadapi tantangan global.

Menurut dia, konsep keberlanjutan tidak hanya mencakup isu iklim dan lingkungan, tetapi juga mencakup inklusivitas dan pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi.

"Pada akhirnya, pertumbuhan berkelanjutan adalah upaya menciptakan perekonomian yang tidak hanya lebih hijau, tetapi juga lebih inklusif dan mampu menciptakan peluang bagi masyarakat serta dunia usaha dalam jangka panjang,” ujar Destry dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Destry mengatakan modal menjadi fondasi pertama karena transformasi ekonomi membutuhkan investasi pada energi bersih, infrastruktur tangguh, ekosistem digital, dan pertanian berkelanjutan. Menurutnya, mobilisasi modal jangka panjang membutuhkan fundamental makroekonomi yang kuat, institusi kredibel, dan sistem keuangan yang tangguh.

BI telah menggunakan sejumlah kebijakan untuk mendorong pembiayaan ke sektor yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Salah satu kebijakan tersebut adalah Kredit Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang memberikan insentif kepada perbankan untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor prioritas, termasuk sektor hijau dan inklusif.

BI juga menggunakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) untuk mendorong perbankan memperluas pembiayaan kepada UMKM dan sektor produktif. BI juga memperkuat sinergi dengan pemerintah dan OJK untuk memperdalam pasar keuangan serta meningkatkan pembiayaan berkelanjutan.

 

BI Beri Insentif Likuiditas Rp 461 Triliun

Pejabat Gubernur BI Sementara Destry Damayanti sebelum mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI terkait asumsi dasar RAPBN 2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 2 September 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Destry mengatakan, BI telah memberikan insentif likuiditas sebesar Rp 461 triliun melalui kebijakan penurunan rasio giro wajib minimum. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 68 triliun telah mengalir menjadi kredit baru untuk sektor perumahan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Sekitar Rp 68 triliun telah disalurkan menjadi kredit baru di sektor perumahan, khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah,” kata Destry.

Menurut Destry, pembiayaan tersebut telah mendukung pembangunan sekitar 115.000 unit rumah. Dengan asumsi satu unit rumah menciptakan pekerjaan bagi empat orang, kebijakan tersebut diperkirakan telah membuka peluang kerja bagi lebih dari 500.000 orang.

Selain modal, Destry menilai inovasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan efektivitas penggunaan sumber daya. Menurut dia, kecerdasan buatan, platform digital, otomatisasi, dan teknologi inovatif lainnya dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat rantai pasok, memperluas inklusi keuangan, serta mendukung pengelolaan risiko iklim.

Destry menekankan inovasi juga menghadirkan risiko baru, termasuk peningkatan kebutuhan energi, keamanan siber, serta risiko operasional dan keuangan. Karena itu, dia menilai perekonomian membutuhkan inovasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga tepercaya dan mampu menjaga stabilitas, keamanan, integritas, serta ketahanan.

 

Pengembangan QRIS

Ilustrasi barcode QRIS (Foto: AI)

BI mencatat jumlah merchant yang menggunakan QRIS telah mencapai 47,11 juta, dengan 96,7% di antaranya merupakan UMKM. Destry menilai perkembangan tersebut menunjukkan inovasi digital dapat menghubungkan pelaku usaha dengan ekonomi formal sekaligus memperluas inklusi ekonomi.

Destry menyebut pengembangan QRIS Cross-Border juga menunjukkan penerapan inovasi pembayaran yang semakin luas. Sistem tersebut telah terhubung dengan sejumlah negara, termasuk Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, dan Korea, serta akan dikembangkan ke India dan Timor-Leste.

Sementara itu, Destry menilai talenta menjadi faktor ketiga yang menentukan keberhasilan transformasi ekonomi. Menurutnya, transisi energi, transformasi digital, dan pembiayaan berkelanjutan membutuhkan sumber daya manusia dengan keahlian baru, termasuk di bidang data, kecerdasan buatan, dan risiko iklim.

 

Pengembangan Talenta

Ciri Orang yang Lebih Suka Bayar Cash daripada QRIS Menurut Psikologi/AI Generated

BI mendorong pengembangan talenta melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) sebagai platform inovasi, pengembangan kapasitas, dan kolaborasi antara regulator, industri, akademisi, serta perusahaan rintisan.

“Pada akhirnya, transisi yang berhasil dan berkeadilan tidak hanya bergantung pada modal dan teknologi. Transisi tersebut juga sangat bergantung pada talenta dan manusia,” ujar Destry.

Destry menegaskan masa depan ekonomi berkelanjutan harus dibangun melalui mobilisasi modal, pengembangan inovasi, dan peningkatan kualitas talenta. Menurutnya, kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan agar ketiga faktor tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, hijau, inklusif, dan tangguh.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya