Karyawan Makin Bergantung AI, Bos Diminta Ubah Cara Memimpin

Penggunaan AI di tempat kerja dikhawatirkan mengikis keterampilan karyawan. Manajer perlu berperan dalam menjaga kemampuan tim.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 10 Oktober 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi AI. Credit: Unsplash/Immo Wegmann

Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara kerja di berbagai bidang, termasuk manajemen. Seiring makin banyak karyawan menggunakan AI untuk pekerjaan sehari-hari, para pemimpin perusahaan perlu menyesuaikan cara mereka mengelola tim.

Chief Talent, Leadership & Culture Officer IBM, Aparna Nair, mengatakan manajer perlu membantu karyawan menghadapi kekhawatiran bahwa penggunaan AI dapat mengikis keterampilan mereka.

Survei IBM terhadap 1.500 kepala sumber daya manusia dan 8.800 karyawan di berbagai negara, yang dirilis pada September, menunjukkan tiga dari empat karyawan yang khawatir merasa AI mulai mengurangi sebagian kemampuan mereka. Keterampilan yang paling sering disebut adalah berpikir kritis.

Peneliti University of Pennsylvania memperkenalkan istilah cognitive surrender dalam makalah yang diterbitkan pada Februari. Istilah ini menggambarkan penerimaan jawaban AI tanpa berpikir kritis, sehingga penalaran sendiri tergantikan.

Ketergantungan pada AI untuk menyelesaikan tugas, bahkan mengambil keputusan, berpotensi mengikis kemampuan pekerja. Dampaknya dapat merembet pada kemandirian, kepercayaan diri, dan kemampuan bernalar, yang pada akhirnya memengaruhi perkembangan karier.

“Di sinilah tim manajemen, karena mereka memahami pekerjaan dan mengenal individu, dapat lebih terarah dalam membantu setiap orang mengembangkan keterampilannya,” kata Nair kepada CNBC Make It, dikutip Sabtu (10/10/2026).

 

Manajer Perlu Beralih Menjadi Pembimbing

Dengan maraknya AI, banyak karyawan mengeluh keterampilan berpikir kritisnya berkurang. (Photo by Brooke Cagle on Unsplash)

Tantangan muncul ketika sejumlah perusahaan justru memangkas lapisan manajemen menengah. Survei Korn Ferry terhadap 15.000 profesional di berbagai negara menunjukkan sekitar empat dari 10 karyawan mengatakan perusahaan mereka mengurangi jenjang manajemen pada 2025.

Sementara itu, laporan Gartner pada Oktober 2024 memperkirakan satu dari lima organisasi akan merampingkan struktur perusahaan dengan bantuan AI hingga 2026, termasuk memangkas lebih dari separuh posisi manajemen menengah yang ada.

Menurut Nair, peran manajer di era AI seharusnya tidak hanya berfokus pada pengawasan pekerjaan, tetapi juga membimbing karyawan agar memiliki keterampilan yang relevan.

Survei IBM menyarankan sejumlah langkah, mulai dari mempertahankan jalur pembelajaran bagi karyawan pada awal karier, mengenali perubahan kebutuhan keterampilan, hingga menyediakan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan individu.

Manajer juga dapat memberi kesempatan melalui penugasan yang menantang, rotasi pekerjaan, atau peluang internal agar karyawan terus mempraktikkan kemampuannya.

Nair menilai manajer memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan anggota tim setiap hari. Mereka dapat mengenali kekuatan dan kelemahan karyawan sekaligus mengarahkan pengembangan keterampilan.

“Pembinaan oleh manusia tidak dapat ditingkatkan skalanya dengan tingkat yang sama seperti AI,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya