Liputan6.com, Jakarta - Lebih dari 40 ribu Bitcoin (BTC) senilai sekitar US$ 3,3 miliar atau Rp 59 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.880) ditarik keluar dari bursa Binance hanya dalam 15 hari, laju mingguan terkuat sejak Juni 2023.
Di sisi lain, ETF Bitcoin spot Amerika Serikat (AS) justru mencatat arus keluar harian. Pertanyaan mulai bermunculan mengenai apakah kondisi tersebut menandakan akumulasi investor atau sekadar pergeseran tempat penyimpanan keuntungan.
Advertisement
"Akumulasi ini jelas membangun lantai kuat bagi Bitcoin, yang terus berkonsolidasi di sekitar US$ 85.000 seiring investor membeli dan menarik BTC mereka dari bursa," tulis analis CryptoQuant Darkfost, dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (7/10/2026).
Cadangan Binance turun dari 704.800 BTC pada 20 September menjadi 663.100 BTC, penurunan lebih dari 40 ribu koin. Darkfost menjelaskan bahwa pekan lalu membawa arus keluar mingguan terkuat dari Binance sejak Juni 2023, dengan sekitar 23.100 koin ditarik.
Koin yang berada di bursa bisa dijual hanya dengan satu klik, sementara memindahkannya ke penyimpanan pribadi membutuhkan langkah ekstra. Karena itu, penarikan koin kerap dibaca sebagai keputusan investor untuk menahan aset, bukan memperdagangkannya.
Padahal, Binance menyimpan Bitcoin lebih banyak dibandingkan bursa manapun, sehingga arus koinnya paling diawasi pelaku pasar. Harga Bitcoin sendiri diperdagangkan mendekati US$ 86 ribu atau Rp 1,5 miliar, turun 0,3% dalam 24 jam terakhir.
ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$ 90 juta atau Rp 1,6 triliun pada Senin, menjadi arus keluar harian pertamanya pada Oktober. IBIT milik BlackRock menjadi satu-satunya dari dua belas dana yang masih mencatat arus masuk.
ETF Catat Arus Keluar Pertama di Oktober
Arus masuk bersih mingguan sebelumnya bahkan sudah anjlok 87,7% menjadi US$ 208,1 juta atau Rp 3,7 triliun, menurut laporan firma riset Glassnode. Indikator ETF MVRV milik Glassnode, yang membandingkan nilai pasar kepemilikan ETF dengan biaya akuisisinya, naik ke level 1,5, di atas kisaran tertinggi historisnya.
Hal ini menunjukkan rata-rata pemegang ETF tengah menanggung keuntungan belum terealisasi yang relatif besar, sehingga berpotensi meningkatkan tekanan aksi ambil untung di pasar.
Menurut data Coinglass, total nilai kontrak (open interest futures) yang beredar turun 3,8% dalam sepekan menjadi US$ 36,6 miliar atau Rp 654,5 triliun. Namun, trader yang mempertahankan posisi long justru membayar lebih mahal untuk menetap.
Pembayaran funding harian pada taruhan bullish naik 57,3% menjadi US$ 1,5 juta atau Rp 26,8 miliar. Glassnode menyebut open interest masih berada dekat kisaran tertinggi, sehingga leverage sistem tetap tinggi meski sempat menurun.
Di sisi lain, tekanan jual di pasar justru melemah. Indikator cumulative volume delta (CVD) Glassnode pulih 90,7 %, menunjukkan tekanan jual besar di balik penurunan harga Senin lalu sebagian besar telah mereda.
Meski begitu, aktivitas di jaringan Bitcoin justru meningkat. Jumlah alamat aktif naik 6,1% sepekan menjadi 675.800, di atas kisaran tertingginya, menurut Glassnode.
Porsi modal "panas", yakni bagian nilai jaringan yang dipegang investor yang membeli dalam tiga bulan terakhir, naik dari 18,9% menjadi 19,5%. Sekitar 73,6% pasokan Bitcoin kini berada di posisi untung.