Kasus Dugaan Perundungan Maut, Kepala Sekolah di Pemalang Dicopot

Plt Bupati Pemalang menonaktifkan Kepala SDN 01 Kebondalem usai siswa kelas 2 MHA (7) tewas diduga akibat bullying. Keluarga serahkan kasus ke polisi.

oleh Danny Adriadhi UtamaDiterbitkan 07 Oktober 2026, 15:26 WIB
Jenazah MHA, korban perundungan, saat dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. (Liputan6.com/ Arief Pramono)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala SDN 01 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Erning Rustini dicopot dari jabatannya menyusul wafatnya siswa kelas 2 berinisial MHA (7) yang diduga menjadi korban bullying. Keputusan ini disebut sebagai bentuk pertanggungjawaban pihak sekolah.

"Sudah dinonaktifkan," kata Plt Bupati Pemalang Nurkholes kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).

Ia menegaskan langkah penindakan disiplin dan pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan akan diterapkan tanpa pandang bulu. "Akan ada tindakan indisipliner, dan upaya pencegahan terjadinya bullying, dan akan berlaku sama bagi siapapun karena kita tidak mentolerir bullying apalagi di sekolah," jelasnya.

Sebelumnya, polisi mengungkap dua siswa yang merupakan kakak kelas diduga terlibat aksi kekerasan hingga menyebabkan korban meninggal dunia pada Sabtu (12/9/2026) pukul 09.00 WIB.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, MHA sempat mengeluh sakit perut dan dirawat di RSUD M Azhari. Kepada dokter, ia menyebut dipukul dan ditendang kakak kelas di sekolah.

MHA mengembuskan napas terakhir pada Rabu (30/9/2026), setelah sembilan hari menjalani perawatan medis di RSUD dr M Ashari Pemalang.

Ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengatakan anaknya awalnya tidak banyak bercerita soal peristiwa yang dialaminya di sekolah. Setelah pemeriksaan dokter, barulah MHA mengaku mengalami kekerasan pada bagian perut. "Dia (MHA) menjawab itu setelah diperiksa sama dokter, katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu," ujar Diah, Jumat (2/10/2026).

Selama perawatan, keluhan pada perut terus dirasakan korban. Kondisinya memburuk dengan gejala muntah, buang air besar berdarah, kehilangan nafsu makan, dan kesulitan buang air besar. "Selama sembilan hari (dirawat di RSUD Pemalang) yang sering dikeluhkan itu perut. Sama seluruh badan kalau diangkat itu nangis," terang Diah menahan rasa sedih.

Setelah sembilan hari dirawat, Diah menyebut putranya sempat diperbolehkan pulang dari RSUD Pemalang. Namun kondisi kesehatan MHA kembali menurun beberapa hari kemudian. Saat keluarga hendak membawanya lagi ke rumah sakit, MHA keburu meninggal dunia.

Peristiwa ini membuat keluarga mendatangi pihak SDN 01 Kebondalem untuk meminta penjelasan terkait dugaan kekerasan yang dialami MHA. Usai pertemuan, orang tua korban menyebut belum ada pertemuan lanjutan yang mempertemukan mereka dengan orang tua siswa yang diduga terlibat.

Hal itu dibenarkan ayah korban, Nurwandi (43). Ia menyebut anaknya sempat menunjukkan foto teman-teman yang diduga melakukan kekerasan. "Anak saya itu sebelum meninggal, sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia. Dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6," ujar Nurwandi.

Pihak keluarga kini menyerahkan pengungkapan perkara kepada aparat penegak hukum. Mereka berharap penelusuran dilakukan menyeluruh untuk memastikan apa yang terjadi sebelum kondisi MHA memburuk hingga meninggal dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya