Turki dan Pakistan Kerahkan Militer ke Arab Saudi Berdasarkan Pakta Makkah

Prinsip Pakta Makkah serupa dengan NATO: serangan terhadap satu negara dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 07 Oktober 2026, 15:02 WIB
Dari kiri, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menandatangani perjanjian pertahanan trilateral di Makkah, Arab Saudi, Jumat (7/8/2026). (Dok. Saudi Press Agency via AP)

Liputan6.com, Riyadh - Turki, Pakistan, dan Arab Saudi sepakat mengaktifkan "langkah penangkalan" dalam pakta pertahanan bersama serta segera mengerahkan pasukan ke Arab Saudi untuk menghadapi serangan kelompok Houthi dari Yaman.

Keputusan itu diumumkan pada Senin (5/10/2026) setelah para menteri pertahanan dan luar negeri ketiga negara menggelar pertemuan darurat di Riyadh. Ini merupakan pertama kalinya aliansi yang dikenal sebagai Aliansi Pertahanan Makkah tersebut diaktifkan sejak ditandatangani pada 7 Agustus.

Pakta itu menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu dari tiga negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya. 

"Komite sepakat mengaktifkan langkah penangkalan kolektif dalam kerangka aliansi sebagai respons terhadap serangan-serangan tersebut dan seluruh pihak yang bertanggung jawab," kata Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman dalam unggahan di media sosial.

Menurut Khalid, aliansi itu juga menegaskan kembali solidaritas dan persatuan negara-negara kita dalam menghadapi serangan keji terhadap kerajaan (Arab Saudi) dan tempat-tempat suci.

Dalam pernyataan bersama terpisah yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri Pakistan, ketiga negara menyatakan akan menyediakan pasukan dan kemampuan militer sesuai kesepakatan, termasuk memastikan pengerahan cepat pasukan yang diperlukan ke Arab Saudi.

Pernyataan itu menyebut komitmen tersebut akan dijalankan berdasarkan pengaturan yang telah disetujui dan sesuai dengan hukum masing-masing negara.

Pengumuman itu disampaikan beberapa jam setelah pasukan yang berpihak kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali wilayah yang direbut Houthi pada bulan lalu. Houthi merupakan kelompok yang didukung Iran.

Pasukan Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi mengatakan telah merebut kembali kota pelabuhan Mocha di Laut Merah dan kini menguasai Selat Bab al-Mandeb yang strategis.

Koalisi pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi keterlibatannya dalam serangan pemerintah Yaman tersebut. Koalisi mengatakan 100 jet tempurnya dikerahkan untuk memberikan dukungan udara.

Sementara itu, Houthi mengklaim telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang minyak Aramco di Rabigh, kota pesisir Arab Saudi.

Kelompok itu juga mengaku menyerang sejumlah lokasi lain, termasuk bandara, pangkalan udara, serta fasilitas penting lainnya.

 

 

Pakta Pertahanan Makkah

Dari kiri, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif berfoto bersama setelah menandatangani perjanjian pertahanan trilateral di Makkah, Arab Saudi, Jumat (7/8/2026). (Dok. Saudi Press Agency via AP)

Aliansi Pertahanan Makkah dibentuk sebagai respons terhadap konflik yang semakin memanas di kawasan setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Pakta pertahanan tersebut ditandatangani pada Agustus, tidak lama sebelum Houthi melancarkan ofensif di Yaman yang juga mencakup serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi.

Menurut Global Firepower Index 2026, ketiga negara anggota aliansi secara keseluruhan memiliki hampir 1,4 juta personel militer aktif, sekitar 3.400 pesawat militer, 6.000 tank, dan lebih dari 340 aset angkatan laut.

Pada awalnya, perjanjian tersebut hanya memuat sedikit rincian mengenai kewajiban militer masing-masing negara. Setelah itu, ketiga negara mulai mengambil sejumlah langkah untuk memperjelas dan memformalkan mekanisme aliansi.

Ketika Houthi menembakkan rentetan rudal ke arah Arab Saudi pada awal September, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan serangan terhadap kerajaan tersebut dapat membuat pakta itu mulai diberlakukan.

"Jika terjadi agresi tanpa provokasi atau jika apa yang terjadi di Yaman meluas ke Arab Saudi maka Perjanjian Makkah tentu akan mulai berlaku," kata Asif kepada media Pakistan, Geo News.

Namun, hingga Senin, aliansi tersebut belum pernah mengambil tindakan. Para analis sebelumnya menilai Pakistan dan Turki enggan meninggalkan peran mereka sebagai mediator dalam perang Iran.

Abdulaziz Alghashian, peneliti senior nonresiden di Gulf International Forum, mengatakan keputusan mengaktifkan pakta pertahanan Makkah akan berdampak besar terhadap keamanan kawasan.

"Serangan dan provokasi Houthi dalam beberapa pekan dan bulan terakhir benar-benar mempercepat terbentuknya Aliansi Makkah, bahkan bisa dikatakan turut mendorong kelahirannya," kata Alghashian kepada Al Jazeera.

Menurut dia, serangan-serangan tersebut turut mendorong pembentukan struktur aliansi.

Alghashian mengatakan perkembangan itu juga memberi gambaran mengenai bentuk sistem keamanan regional yang mulai terbentuk.

"Kita sering berbicara tentang arsitektur keamanan regional. Itu salah satu istilah yang terdengar sangat canggih," imbuhnya. "Namun, sering kali istilah itu kosong dan tidak banyak orang benar-benar mengetahui seperti apa bentuknya secara terperinci. Saya kira sekarang kita mulai melihat bagaimana konsep itu diwujudkan. Ini merupakan titik penting dalam sejarah kawasan."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya