Liputan6.com, Jakarta - Raksasa minyak Arab Saudi, Aramco memperingatkan cadangan minyak dunia telah menyusut hingga ke tingkat sangat rendah dan mengkhawatirkan. Hal ini di tengah krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Mengutip Politico, Rabu, (7/10/2026), berbicara pada awal pekan ini di Energy Intelligence Forum di London, Inggris, CEO Aramco Amin Nasser menuturkan, pelepasan pasokan dari cadangan hanya akan memberikan bantuan sementara dan tidak dapat mengatasi masalah pasokan jangka panjang.
Advertisement
"Sampai Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya dan kepercayaan pulih, kenyataan pahitnya adalah tekanan di kedua sisi rantai pasokan minyak akan semakin meningkat," ujar dia.
Ia menuturkan, bantalan ketahanan pasokan minyak dunia kini sangat tipis hingga mengkhawatirkan.
Selat Hormuz, sebuah jalur vital bagi lalu lintas energi, masih ditutup tanpa batas waktu, sehingga memicu kenaikan harga minyak dan gas global akibat menipisnya pasokan. Menurut Nasser, sekitar 30% dari cadangan minyak dunia telah "hilang" sejak AS dan Israel memulai perang dengan Iran pada Februari.
"Dunia memasuki krisis ini dengan cadangan minyak global hampir 10 miliar barel, sejak saat itu, pasokan minyak kotor (gross oil supply) sebanyak hampir 3 miliar barel telah hilang," kata dia.
“Setelah selat tersebut dibuka kembali sepenuhnya, dibutuhkan waktu "hingga dua tahun" untuk memulihkan kembali cadangan minyak tersebut,” Nasser menambahkan.
Komentar CEO tersebut disampaikan beberapa hari setelah G7 mengumumkan rencana untuk melepas hingga 100 juta barel minyak selama empat bulan ke depan guna meredam kenaikan harga bahan bakar.
Presiden AS Donald Trump sempat mengancam akan melarang total ekspor solar, yang memberikan tekanan bagi negara-negara Eropa untuk menggunakan cadangan minyak mereka.
Harga Minyak
Sebelumnya, harga minyak menguat pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026 (Rabu pagi Jakarta) setelah pulih dari penurunan sebelumnya. Hal ini saat pasar menimbang faktor peningkatan ekspor minyak mentah Timur Tengah dan rencana pelepasan cadangan darurat diesel serta minyak mentah oleh kelompok G7, dibandingkan kekhawatiran pasokan akibat serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Mengutip CNBC, Rabu (7/10/2026), harga minyak Brent naik 26 sen dan ditutup pada level US$ 100,58 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1 sen dan menetap di US$ 89,44.
"Harga acuan minyak mentah global, Brent, kembali bergerak di kisaran US$ 100 per barel, karena alasan untuk diperdagangkan jauh melampaui angka psikologis tiga digit tersebut mulai memudar, untuk saat ini, asumsi bahwa lebih banyak pasokan minyak mentah yang berhasil mengalir telah meredam lonjakan harga," ujar analis di pialang minyak PVM, John Evans.
CEO perusahaan perdagangan komoditas raksasa Vitol menuturkan, sekitar 12 juta barel minyak mentah per hari dan 2 juta barel produk olahan per hari, volume yang diperlukan untuk meredam tekanan harga telah dikirim keluar dari Timur Tengah menggunakan kapal tanker dalam tujuh hingga 10 hari terakhir.
Penurunan Harga Minyak Tertahan
Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, mengatakan pada Selasa, minyak yang dialirkan melalui Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) yang membentang hingga ke pusat ekspor kerajaan di Laut Merah, Yanbu telah mencapai volume 5,8 juta barel hingga Selasa pagi.
Namun, penurunan harga minyak tertahan oleh kemungkinan adanya gangguan pasokan lebih lanjut dari Timur Tengah.
Bandara Arab Saudi di Jazan dan Najran menjadi sasaran dua serangan pada Senin malam, yang menyebabkan tiga orang terluka dan kerusakan ringan, menurut otoritas penerbangan Saudi, di tengah meningkatnya ketegangan antara kerajaan tersebut dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.
Serangan itu terjadi saat pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi melancarkan serangan besar untuk merebut kembali wilayah dari tangan Houthi setelah kelompok pemberontak itu sempat bergerak maju selama berminggu-minggu di mana Riyadh meningkatkan serangan udara untuk mendukung operasi tersebut.
Secara terpisah, koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi. Badan Energi Internasional (IEA) akan mengadakan pertemuan pekan depan untuk merinci pelepasan cadangan solar di tengah meningkatnya kebingungan pasar mengenai jumlah barel yang akan disediakan oleh Eropa dan AS guna mengatasi kelangkaan serta harga yang mencapai rekor tertinggi, menurut sejumlah sumber.
Lonjakan harga Solar
Lonjakan harga solar telah menjadikan bahan bakar ini yang menjadi tulang punggung sektor angkutan truk, pertanian, dan industri sebagai isu politik dan ekonomi global. Konflik di Iran dan Ukraina telah menghambat ekspor serta merusak kilang minyak, yang turut mendorong kenaikan harga.
Di bawah tekanan Presiden AS Donald Trump, kelompok tujuh negara ekonomi utama (G7) pada Jumat sepakat untuk melepas 100 juta barel solar dan minyak mentah dari cadangan darurat, serta berkomitmen untuk tidak menerapkan pembatasan ekspor energi.
Namun, G7 tidak merinci volume minyak mentah, solar, dan produk lainnya yang akan dilepas, ataupun menyebutkan negara mana saja yang akan berpartisipasi.
Akibat perang di Iran yang mengganggu aliran pasokan minyak Timur Tengah, Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Selasa memproyeksikan produksi minyak dunia akan turun dari rekor 106,3 juta barel per hari (bpd) pada 2025 menjadi 101,1 juta bpd pada 2026. Sementara permintaan minyak dunia diperkirakan turun dari rekor 104,4 juta bpd pada 2025 menjadi 102,4 juta bpd pada 2026.
Prediksi EIA
Akan tetapi, untuk 2027, EIA memprediksi pasokan dan permintaan minyak dunia akan kembali naik mencapai rekor tertinggi, yakni produksi sebesar 109,6 juta bpd dan konsumsi sebesar 104,6 juta bpd.
Sementara itu di AS, pasar minyak tengah menantikan laporan mingguan mengenai tingkat penyimpanan dari asosiasi industri American Petroleum Institute pada hari Selasa dan dari EIA pada Rabu. Para analis memperkirakan perusahaan-perusahaan energi menambahkan 1,8 juta barel minyak mentah ke dalam fasilitas penyimpanan AS selama pekan yang berakhir pada 2 Oktober.
Jika perkiraan ini tepat, hal tersebut akan menandai kali pertama sejak Agustus stok minyak mentah meningkat selama tiga pekan berturut-turut, serta dibandingkan dengan kenaikan sebesar 3,7 juta barel pada pekan yang sama tahun lalu dan rata-rata kenaikan 1,7 juta barel selama lima tahun terakhir (2021 hingga 2025).