Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen), Atip Latipulhayat meminta sekolah terbuka dalam penanganan kasus kematian siswa SD di Pemalang, Jawa Tengah yang diduga mengalami kekerasan. Atip mengatakan penanganan kasus tersebut harus mengacu pada regulasi yang berlaku.
“Regulasinya kan sudah jelas adalah untuk penegakan dari regulasi tersebut,” kata Atip kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Advertisement
Menurut dia, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Masalah ini penyebabnya satu pihak, gitu kan. Ada di masyarakat, di keluarga, di sekolah, sehingga penanganannya harus holistik, komprehensif, dan bersama-sama,” ujarnya.
Atip juga menanggapi informasi mengenai sekolah yang kurang terbuka dalam kasus tersebut. Dia menegaskan sekolah tidak boleh menutup-nutupi persoalan.
“Ya kalau untuk itu kan kita akan menindaklanjuti, ya. Karena sesuai dengan aturan tidak bisa menutup-nutupi itu, harus ditindaklanjuti,” katanya.
Siswa Diduga Ditendang dan Dipukul Kakak Kelas
Seorang siswa SD berinisial MHA (7), di Kabupaten Pemalang meninggal dunia diduga menjadi korban perundungan kakak kelas di sekolah. Sebelum mengembuskan napas terakhir, MHA mengeluhkan sakit perut dan sempat dirawat di RSUD M Azhari.
Kepada dokter yang memeriksa, MHA menyebut dirinya dipukul dan ditendang kakak kelas di sekolah. MHA mengembuskan napas terakhir pada Rabu (30/9/2026), setelah sembilan hari menjalani perawatan medis di RSUD dr M Ashari Pemalang.
Diah Indriyanti (36), ibunda korban mengatakan, awalnya sang anak sempat tidak banyak bercerita mengenai apa yang dialaminya di sekolah. Namun setelah diperiksa dokter, MHA akhirnya mengaku mengalami kekerasan pada bagian perut.
"Dia (MHA) menjawab itu setelah diperiksa sama dokter, katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu," ujar Diah, Jumat (2/10/2026).
Selama menjalani perawatan, kata Diah, keluhan sakit pada bagian perut terus dirasakan korban. Kondisi kesehatan korban pun semakin memburuk. Korban mengalami muntah, buang air besar berdarah, kehilangan nafsu makan hingga kesulitan buang air besar.
"Selama sembilan hari (Dirawat di RSUD Pemalang) yang sering dikeluhkan itu perut. Sama seluruh badan kalau diangkat itu nangis," terang Diah menahan rasa sedih.
Setelah sembilan hari dirawat, imbuh Diah, putranya sempat diperbolehkan pulang dari RSUD Pemalang. Namun kondisi korban malah makin memburuk.
Beberapa hari kemudian, sakit pada bagian perut kembali dirasakan korban. Saat keluarga hendak membawa MHA kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, MHA keburu meninggal dunia.
Kepergian MHA meninggalkan duka sekaligus tanda tanya besar bagi keluarganya. Orang tua korban kemudian mendatangi pihak SD Negeri 01 Kebondalem. Mereka meminta penjelasan mengenai dugaan kekerasan yang dialami anak mereka.
Namun usai pertemuan dengan pihak sekolah, pihak kedua orang tua korban mengaku belum ada pertemuan kembali mempertemukan dengan orang tua anak yang diduga terlibat untuk membahas persoalan tersebut.
Kondisi itu pun dibenarkan oleh ayah korban, Nurwandi (43). Bahkan sebelum meninggal dunia, anaknya sempat menunjukkan foto teman temannya yang melakukan kekerasan terhadap dirinya.
"Anak saya itu sebelum meninggal, sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia. Dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6," ujar Nurwandi.