Liputan6.com, Tokyo - Militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa, Jepang, menghentikan seluruh kegiatan operasional selama 48 jam, membatasi personelnya keluar dari pangkalan, serta mewajibkan mereka mengikuti pelatihan setelah seorang anggota marinir ditangkap atas dugaan membunuh seorang perempuan setempat.
Komandan III Marine Expeditionary Force Letjen Benjamin Watson mengatakan dalam surat yang diunggah ke media sosial pada Selasa (6/10/2026) bahwa insiden seperti ini "mengharuskan kami berhenti sejenak untuk melakukan refleksi." Ia juga menegaskan bahwa bertugas di Okinawa disertai tanggung jawab.
Advertisement
Penangkapan seorang anggota marinir AS kembali memicu protes terhadap besarnya kehadiran militer AS di Okinawa serta meningkatnya tindak kejahatan yang melibatkan personelnya. Kasus pembunuhan ini berpotensi pula mempersulit upaya Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk memperkuat militer Jepang di Okinawa dan meningkatkan kerja sama dengan militer AS guna menangkal China di kawasan.
"Kami hidup, bekerja, dan bergaul berdampingan dengan masyarakat Okinawa; rumah mereka adalah rumah kami," tulis Watson seperti dilaporkan Associated Press.
"Setiap interaksi dengan masyarakat sekitar bisa memperkuat atau justru merusak kepercayaan yang sangat penting bagi hubungan kita. Ketika kepercayaan itu rusak, kekuatan aliansi kita dan keamanan kawasan ini ikut terdampak. Karena itu, kami akan menggunakan waktu ini untuk memikirkan secara serius soal disiplin, standar, dan tanggung jawab kami sebagai bagian dari aliansi."
Penghentian kegiatan selama 48 jam itu berlangsung mulai Rabu hingga Jumat (9/10). Selama periode tersebut, para personel akan mengikuti pelatihan mengenai standar, disiplin, dan "tanggung jawab kami sebagai bagian dari komunitas Okinawa".
Pembatasan terhadap personel agar tidak keluar dari pangkalan dan berinteraksi dengan masyarakat setempat merupakan langkah yang umum diterapkan pimpinan militer setelah terjadi tindak kejahatan serius.
Kepolisian Prefektur Okinawa mengatakan mereka menangkap Lance Cpl. Devin Jacob Ballard (20) yang bertugas di Pangkalan Udara Futenma. Ia diduga mencekik Anna Yagi (39) di sebuah hotel di Naha, ibu kota Okinawa, pada Sabtu (3/10) dini hari, kemudian mengambil dompet dan tas ranselnya.
Menurut laporan media Jepang, Ballard membantah tuduhan tersebut. Korps Marinir AS menyebut Ballard berasal dari Ohio.
Rekaman kamera pengawas menunjukkan seorang pria masuk ke hotel bersama korban, lalu keluar seorang diri.
Ballard ditangkap setelah seorang polisi yang sedang berpatroli melihatnya berjalan di sebuah kawasan hiburan di Okinawa City pada Sabtu malam. Lokasi itu berada sekitar 25 kilometer di timur laut Naha.
Menurut kantor berita Kyodo, kepala Ballard yang dicukur serta tato di lengannya cocok dengan ciri-ciri pria dalam rekaman kamera pengawas.
"Saya harus mengatakan bahwa disiplin dan pembinaan terhadap personel sama sekali tidak berjalan," kata Kenji Higa, warga Okinawa City, kepada Okinawa Times.
Ia merujuk pada berbagai langkah yang sebelumnya diterapkan militer AS sebagai respons terhadap kasus-kasus kriminal.
Masyarakat Okinawa sejak lama menentang besarnya kehadiran militer AS di pulau tersebut. Namun, sebagian warga mulai melihat nilai strategis keberadaan pasukan AS seiring dengan apa yang secara luas dipandang sebagai meningkatnya ancaman dari China.
Okinawa berada di bawah pendudukan AS sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga 1972. Saat ini, jumlah warga AS di pulau tersebut mencapai hampir 80.000 orang, termasuk hampir 30.000 personel aktif dari keempat matra angkatan bersenjata AS. Sebagian besar personel yang ditempatkan di Okinawa berasal dari Korps Marinir.
Kemarahan warga juga meningkat seiring bertambahnya tindak kejahatan yang dikaitkan dengan militer AS. Menurut kepolisian, jumlah kasus kriminal yang melibatkan personel militer AS naik menjadi 101 kasus pada tahun lalu, dibandingkan sekitar 40 kasus pada 2020.
Setelah pemerkosaan terhadap seorang anak perempuan berusia 12 tahun oleh tiga personel militer AS pada 1995, massa dalam jumlah besar turun ke jalan untuk memprotes keberadaan pasukan AS di Okinawa.
Kemarahan kembali muncul setelah seorang personel militer AS memperkosa seorang remaja perempuan pada 2024 dan kasus ini terlambat diungkap kepada publik.