Liputan6.com, Jakarta - Fiki Mutakin, seorang ABK kapal tanker MT Honour yang disandera selama 6 bulan oleh perompak Somalia, hampir tewas ditembak. Dirinya selamat setelah berpura-pura mati untuk mengelabui para perompak.
Kisah tersebut dibagikan oleh Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Nairobi, Kenya, Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji (T.B.H. Witjaksono Adji).
Advertisement
Kepadanya Fiki menceritakan, pada saat operasi pembebasan sandera oleh pemerintah setempat, sudah ada beberapa ABK yang dieksekusi mati oleh para perompak. Sebelum dieksekusi, para ABK akan diikat terlebih dulu, termasuk Fiki.
"Dia (perompak) menjadikan para sandera sebagai tameng. Fiki termasuk yang harusnya dieksekusi karena diikat mereka. Saat itu, oleh perompak lain, Fiki itu dilepaskan talinya karena mereka meminta dia menurunkan sekoci, untuk mengoperasikan crane, menurunkan sekoci supaya mereka bisa kabur," ungkap Adji.
Namun, saat Fiki akan menurunkan sekoci, tiba-tiba datang perompak lain yang marah besar karena ikatan di tubuh Fiki terlepas. Perompak tersebut juga menolak untuk kabur dan tak mengizinkan sekoci diturunkan.
"Kita enggak boleh kabur. Jangan!" kata Adji menirukan dialog perompak tersebut.
Perompak tersebut langsung mengarahkan senapan ke arah kepala Fiki. Namun dia berhasil menghindar. Kemudian tembakan kedua mengenai kakinya.
Fiki pun terjatuh, memanfaatkan momen, Fiki pura-pura tewas. Badannya kaku layaknya mayat.
Di dekatnya ada perompak lain yang diduga berpihak padanya. Sebab, perompak tersebut sontak menyelimuti tubuh Fiki, seperti mayat. Sehingga Fiki tak lagi jadi target eksekusi.
"Jadi katanya pura-pura mati. Pura-pura mati, enggak bergerak, diam aja, dan dia juga dibantu oleh pembajak lain yang simpatik juga kepada ABK, karena sudah 6 bulan dalam satu kapal gitu. Sama pembajak itu diselimuti, ditutup, jadi seolah-olah meninggal," cerita Adji.
Sementara operasi penyelamatan tetap berjalan oleh pemerintah setempat. Setelah dirasa aman, Fiki bergerak, meminta tolong, lalu diselamatkan.
Kemudian, kapal tetap berlayar menuju Bandar Bayla, salah satu kota pesisir di Somalia. Lalu, dengan cara diderek, kapal berlayar ke Kota Bosaso Pundland.
"Nah, yang sakit langsung dievakuasi ke rumah sakit di kota Garowe, itu ibu kotanya Puntland. Semua dirawat, meski tampak sederhana, perawatan dilakukan dengan serius, dilayani dengan baik," kata Adji.
Sementara yang sehat, masih melanjutkan kerja sebentar, sembari menunggu kru pengganti. Setelah itu, para ABK bersama-sama berkumpul dengan Kedubes di Garowe, istirahat sebentar, kemudian dipulangkan ke Indonesia.