Liputan6.com, Apia - Perdana Menteri Samoa meminta maaf setelah sebuah video lama yang memperlihatkan dirinya melakukan salam Nazi sambil memimpin seruan "Heil Hitler" dalam reuni keluarga pada 2007 kembali beredar.
La'aulialemalietoa Leuatea Schmidt mengatakan ucapannya saat itu "tidak dimaksudkan untuk diketahui publik". Ia menyampaikan permintaan maaf melalui pernyataan yang diterbitkan pemerintah pada Senin (5/10/2026).
Advertisement
"Apa pun konteks atau maksud di balik pertemuan yang berlangsung dua puluh tahun lalu itu, saya menyadari bahwa ucapan dan gerakan tersebut tidak pantas serta dapat menyinggung dan menyakiti orang lain. Saya meminta maaf karena telah melakukannya," kata Laaulialemalietoa, yang menjabat sebagai perdana menteri negara kepulauan di Pasifik itu sejak tahun lalu seperti dilaporkan CNN.
Laaulialemalietoa mengatakan pernyataan antisemitisme tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan keluarga tertutup di Savai’i, pulau terbesar di Samoa, pada 2007. Saat itu, ia menjabat sebagai wakil ketua parlemen.
Dalam potongan video berdurasi tujuh detik, Laaulialemalietoa terlihat memimpin sekitar selusin orang melakukan salam yang dikaitkan dengan Nazi. Ia terdengar mengatakan, "Angkat tangan kanan, Heil Hitler", yang kemudian ditirukan oleh orang-orang di sekitarnya, baik ucapan maupun gerakannya.
Video tersebut pertama kali diberitakan oleh surat kabar Samoa Observer pada Minggu (4/10).
Tahun lalu, Laaulialemalietoa melarang Samoa Observer menghadiri seluruh konferensi pers pemerintah karena menilai pemberitaan media tersebut "tidak adil".
Samoa merupakan negara kecil berpenduduk sekitar 221.000 jiwa di kawasan Pasifik Selatan, dekat Fiji. Negara itu terletak di sebelah barat Samoa Amerika, wilayah Amerika Serikat yang berada di bagian timur gugusan Kepulauan Samoa.
Samoa pernah menjadi koloni Jerman pada awal Abad ke-20. Banyak warga Samoa memiliki keturunan Jerman dan nama keluarga yang berasal dari negara tersebut.
Selandia Baru merebut wilayah yang saat itu dikenal sebagai Samoa Barat dari Jerman pada 1914 dan tetap menguasainya hingga Samoa merdeka pada 1962.
Dalam pernyataannya pada Senin, Laaulialemalietoa mengatakan tindakannya dalam video tersebut tidak mencerminkan keyakinan pribadinya maupun pandangan pemerintah dan masyarakat Samoa.
"Saya menolak Nazisme, antisemitisme, rasisme, serta segala bentuk ekstremisme politik," katanya seraya menambahkan bahwa dirinya kini menganggap "persoalan ini telah selesai."