Fakta Menarik MBG Prasmanan di Jepara

MBG prasmanan di Jepara belum diterapkan secara permanen.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 06 Oktober 2026, 16:39 WIB
MBG prasmanan di Jepara

Liputan6.com, Jakarta - Ada pemandangan berbeda dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Jika sebelumnya siswa tinggal menerima makanan yang sudah diporsikan dalam ompreng, kini mereka justru berdiri di depan meja prasmanan dan mengambil sendiri menu yang diinginkan.

Pola baru tersebut tengah diuji coba di SD Swasta Kanisius Jepara. Sebanyak 25 siswa kelas IV dan V di SD setempat, menjadi bagian dari pilot project sistem buffet style yang dimulai Senin (5/10/2026). Uji coba ini dijadwalkan berlangsung selama dua pekan.

Perubahan ini membuat siswa tak lagi sekadar menjadi penerima makanan. Mereka ikut terlibat dalam proses persiapan dan pemorsian, sebelum mengambil hidangan dari meja prasmanan dengan pendampingan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Antusiasme siswa SD Kanisius Jepara pun menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan perdana. Sistem tersebut diuji untuk melihat apakah pola prasmanan dapat membuat siswa lebih terlibat dalam menentukan dan mengambil makanan sesuai kebutuhannya.

Korwil SPPG Kabupaten Jepara Muhammad Wildan Musthofa mengatakan, sistem prasmanan tersebut masih dalam tahap percontohan.

“Kebetulan di Jepara masuk project piloting. Sementara ini periodenya dua minggu,” ujar Wildan yang ditemui di SD Kanisius pada Selasa (6/10/2026).

 

Penghitungan Sisa Makanan

Tak hanya respons siswa yang menjadi perhatian, jumlah makanan yang tersisa atau food waste juga ikut dihitung dalam evaluasi SPPG.

Pada hari pertama, dari 25 siswa yang mengikuti uji coba di SD Kanisius Jepara, total makanan yang tersisa mencapai 0,8 kilogram. Rinciannya, 0,5 kilogram berupa nasi atau sumber karbohidrat dan 0,3 kilogram berupa sayuran.

Menariknya, tidak ditemukan sisa protein hewani, protein nabati, buah maupun makanan lainnya.

“Dari sisi food waste, makanan yang tersisa hanya 0,8 kilogram. Rinciannya terdiri atas 0,5 kilogram nasi atau karbohidrat dan 0,3 kilogram sayuran," terang Wildan.

Wildan mengakui bahwa tidak terdapat sisa protein hewani, protein nabati maupun buah atau makanan lainnya dengan perubahan pola prasmanan.

Meski demikian, kata Wildan, sistem baru tersebut belum sepenuhnya tanpa kendala. Waktu menjadi salah satu persoalan yang harus diperhitungkan agar proses persiapan, pemorsian hingga pengambilan makanan tidak memangkas jam belajar siswa.

“Kalau dari siswanya memang perlu adaptasi. Penyiapannya jangan sampai mengurangi jam sekolah siswa,” terang Wildan.

 

Siswa Ambil Makanan Sendiri

Makanan MBG tetap dimasak di SPPG Jepara Kauman 2 Jepara, sebelum dikirim ke SD Kanisius Jepara.

Pada hari pertama, proses memasak selesai sekitar pukul 07.00 WIB dengan suhu makanan tercatat 124,4 derajat Celsius. Makanan kemudian diberangkatkan pukul 08.30 WIB dan tiba di sekolah sekitar pukul 08.33 WIB.

Sekitar pukul 09.00 WIB, meja prasmanan mulai disiapkan. Siswa yang terlibat ikut membantu proses persiapan dan pemorsian dengan pendampingan petugas SPPG.

Setelah hidangan tersaji, siswa mengambil makanan sendiri sesuai menu dan porsi yang disediakan.

Kegiatan prasmanan di SD Kanisius Jepara berakhir sekitar pukul 09.40 WIB dengan total holding time mencapai 120 menit.

Dari sisi keamanan pangan, hasil uji organoleptik dinyatakan layak. Kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh siswa yang terlibat dalam proses penyajian juga tercatat 100 persen.

Namun, tingkat kepuasan siswa dan guru di SD Kanisius Jepara pada pelaksanaan awal masih berada pada skor 3 dari 5.

 

Bakso dan Capcay Menu Pilihan

Menu yang disiapkan dalam sistem prasmanan di SD Kanisius Jepara merupakan makanan yang relatif familiar bagi siswa.

Ada menu bakso sapi atau ayam dengan bumbu bawang putih, bawang merah, bawang bombay, kecap manis dan saus tiram.

Kemudian tahu goreng tepung yang dibuat dari tahu putih atau tahu kuning, dibalut tepung terigu dan tepung beras serta dibumbui bawang putih, ketumbar dan daun bawang.

Untuk sayuran tersedia capcay yang berisi wortel, kembang kol, sawi putih dan caisim. Hidangan tersebut dipadukan dengan bawang putih, saus tiram, kecap asin dan minyak wijen.

Menu-menu tersebut disajikan dalam konsep prasmanan yang memungkinkan siswa mengambil makanan sendiri.

 

Dua Pekan Masa Penentuan

Uji coba sistem prasmanan ini belum menjadi pola permanen di Jepara. Selama dua pekan mendatang, pihak SPPG akan mencatat berbagai temuan, mulai dari antusiasme siswa. Selain itu, jumlah makanan tersisa, keamanan pangan, efisiensi waktu hingga tingkat kepuasan siswa dan guru.

Pendampingan petugas SPPG juga tetap dilakukan, untuk memastikan proses persiapan dan pemorsian berjalan sesuai ketentuan.

Wildan menegaskan, evaluasi tersebut akan menjadi dasar untuk menilai apakah sistem prasmanan efektif dan layak diterapkan lebih luas.

“Ya, Selasa (6/10/2026) ini, merupakan hari kedua,” tandas Wildan.

Di sisi lain, Wakil Bupati Jepara M Ibnu Hajar dijadwalkan meninjau langsung pelaksanaan pilot project tersebut pada Kamis (8/10/2026).

Peninjauan akan melihat langsung bagaimana pola baru MBG diterapkan. Termasuk keterlibatan siswa, efisiensi waktu, keamanan makanan hingga respons peserta.

“Dari kami juga akan melakukan peninjauan dan mendampingi,” pungkas Wildan.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya