Ukraina Kerahkan Senjata Berbasis AI untuk Tembak Jatuh Drone Rusia

Penasihat presiden Ukraina mengonfirmasi sebanyak 12 menara senjata telah dipasang di Kyiv dan lebih banyak menara akan dipasang ke depannya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 06 Oktober 2026, 19:01 WIB
Menara senjata otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mencegat drone bermesin jet Rusia yang menyerang Kyiv, Ukraina, 1 Oktober 2026. (Dok. AFP/Angkatan Udara Ukraina)

Liputan6.com, Kyiv - Ukraina mulai menggunakan menara senjata otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menembak jatuh drone baru Rusia yang menggunakan mesin jet dan mampu melaju dengan kecepatan tinggi. Demikian disampaikan Angkatan Udara Ukraina, Senin (5/10/2026).

Selama berbulan-bulan, Kyiv mencari cara baru untuk menghadapi drone-drone terbaru Rusia yang terus menggempur ibu kota Ukraina. Upaya itu dilakukan di tengah kekurangan amunisi yang sesuai untuk menembak jatuh drone tersebut.

Drone terbaru Rusia yang menggunakan mesin jet terbang lebih cepat dan lebih sulit dicegat dibandingkan model sebelumnya yang dikembangkan dari drone Shahed buatan Iran.

"Sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman tersebut, menara senjata otomatis kini dipasang di jembatan-jembatan," kata juru bicara Angkatan Udara Ukraina Kolonel Yuri Ignat kepada televisi nasional seperti dilaporkan CNA.

"Sudah ada yang berhasil ditembak jatuh," jelasnya, termasuk Geran-5, versi yang berukuran lebih besar, lebih cepat, dan lebih kuat.

Kepada AFP, Ignat menjelaskan bahwa menara senjata baru itu, yang juga telah dilihat langsung oleh jurnalis AFP di ibu kota Ukraina, menggunakan "penglihatan optik dan kecerdasan buatan untuk menghilangkan faktor manusia dan melakukan serangan".

Sergiy Beskrestnov, penasihat teknologi presiden Ukraina, mengatakan melalui Telegram pada akhir pekan bahwa menara senjata otomatis tersebut merupakan "solusi inovatif Ukraina yang menembak jatuh (drone) menggunakan senapan mesin yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan".

 

 

Bukan Solusi Tunggal

Ignat mengakui sistem baru tersebut memiliki jangkauan yang terbatas.

"Sistem ini dapat beroperasi pada jarak sekitar satu kilometer lebih. Sistem ini juga hanya bekerja dalam kondisi yang mendukung, ketika sudut datang serangan sesuai," tuturnya kepada AFP.

"Ini bukan solusi untuk segala situasi."

Ia menegaskan bahwa menara tersebut merupakan bagian dari "sistem pertahanan udara terpadu yang memungkinkan target-target ini diserang pada berbagai lapisan pertahanan".

"Tentu saja kami mengandalkan seluruh kemampuan yang tersedia," ungkap Ignat.

Ignat mengatakan saat ini sebagian besar upaya menghadapi drone bermesin jet "sebenarnya dilakukan oleh pesawat tempur".

"Karena drone-drone itu terbang tinggi dan cepat, pesawat tempurlah yang bisa mengejarnya, terutama F-16," jelasnya seraya menambahkan, beberapa pilot bahkan terkadang mampu 'menembak jatuh lebih dari 10 Shahed dalam satu kali penerbangan'.

Namun, karena persediaan rudal sangat terbatas, para pilot kerap terpaksa menembak drone menggunakan kanon yang terpasang di pesawat tempur.

Ukraina, yang berulang kali meminta lebih banyak dukungan untuk menghadapi Rusia sejak invasi besar-besaran dimulai pada 2022, terus mempercepat pemanfaatan kecerdasan buatan dalam kemampuan pertahanannya.

Teknologi itu kini telah digunakan di garis depan untuk membantu mengarahkan drone, mendeteksi sasaran serangan, serta mengoordinasikan operasi dalam skala besar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya