Liputan6.com, Jakarta - Polres Pemalang mengungkap temuan awal soal kematian seorang siswa SD Pemalang. Penyelidikan menyasar peran dua anak yang disebut terlibat, dengan pemicu ketersinggungan antara korban dan salah satu anak tersebut. Informasi ini disampaikan setelah rangkaian pemeriksaan saksi oleh penyidik.
Menurut hasil penelusuran awal, delapan orang telah dimintai keterangan. Sebelum meninggal, korban disebut sempat menunjukkan foto dua anak yang diduga pelaku. Keduanya merupakan kakak kelas di sekolah yang sama.
Advertisement
"Jadi penyebabnya adanya ketersinggungan dari ucapan korban dan anak yang terlibat. Terdapat dua anak yang terlibat bahkan sebelum meninggal dunia anak korban sempat menujukkan foto semua kakak kelas," kata Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Wildan Umar, Selasa (6/9/2026).
Dari pemeriksaan lanjutan, polisi menyatakan tidak menemukan keterlibatan anak lain di luar dua nama yang disebut korban. Isu adanya pemalakan yang beredar di media sosial turut dibantah oleh penyidik.
"Jadi dari keterangan saksi-saksi korban sebelum meninggal dan saksi-saksi anak lainnya tidak terlibat. Dan tidak ada pemalakan kepada korban," ujar Wildan.
Dalam proses klarifikasi, polisi juga menyinggung kabar yang menyebut orang tua anak terlibat berasal dari anggota Polri. Keterangan dari pihak sekolah menyebut tidak ada orang tua berprofesi polisi pada keluarga anak-anak yang disebut dalam perkara ini.
"Dari pihak sekolah, pekerjaan orang tua atau bapak dari ketiga anak tersebut adalah tenaga medis dan wiraswasta, bukan polisi yang selama ini dikabarkan di sosial media," ujar Wildan.
Adapun peristiwa kekerasan yang memicu perkara ini terjadi pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 09.00 WIB saat jam istirahat.
Kronologi Tewas
Muhamad Hasbi Al-Aqib (7), murid kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Pemalang, meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026) sore saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aksi kekerasan yang diduga terkait dengan kasus ini terjadi pada jam istirahat di depan pintu kamar kecil saat lokasi tengah sepi karena sebagian siswa bermain di halaman.
Hasbi, warga Kebondalem, sebelumnya dirawat di rumah sakit setelah mengeluhkan sakit di bagian perut. Ibunya, Diah Indriyanti (36), menyebut putranya mulai masuk rumah sakit pada Kamis (17/9/2026). Saat itu, keluarga belum mengetahui adanya dugaan kekerasan yang dialami anaknya.
Setelah menjalani perawatan selama sembilan hari, Hasbi diperbolehkan pulang. Namun, kondisinya dilaporkan menurun hingga tidak dapat berjalan karena mengeluhkan sakit di sekujur tubuh.
Tiga hari kemudian, kondisi Hasbi kembali memburuk. Keluarga berencana membawanya lagi ke rumah sakit, tetapi dalam perjalanan, Hasbi meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026).