Indonesia Butuh Investasi Rp 13.000 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menuturkan, hilirisasi tetap menjadi salah satu pilar utama strategi ekonomi.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 06 Oktober 2026, 13:44 WIB
CEO Danantara, Rosan Roeslani. (Foto: istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan kebutuhan investasi tersebut menjadi bagian dari strategi pembangunan yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, hilirisasi, dan transisi energi.

“Untuk mencapai target tersebut, kita membutuhkan investasi lebih dari Rp 13.000 triliun dalam lima tahun, atau lebih besar daripada investasi yang berhasil kita tarik selama 10 tahun sebelumnya jika digabungkan,” ujar Rosan dalam Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Rosan mengatakan Indonesia mencatat realisasi investasi lebih dari US$120 miliar pada 2025, tumbuh 12,7% secara tahunan dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja.

Pada enam bulan pertama 2026, realisasi investasi telah mencapai US$61 miliar, tumbuh 7,2% secara tahunan dan menciptakan sekitar 1,45 juta lapangan kerja.

Rosan mengatakan industri hilirisasi kini menyumbang sekitar 30% dari total investasi Indonesia dan terus tumbuh dengan dukungan investor domestik maupun internasional.

“Hilirisasi tetap menjadi salah satu pilar utama strategi ekonomi kita,” kata Rosan.

Rosan mengatakan pemerintah mengarahkan investasi pada tiga sektor utama, yaitu elektrifikasi, hilirisasi yang lebih bersih, dan biofuel.

Pada sektor elektrifikasi, Indonesia telah memproduksi sel baterai melalui dua pabrik besar bersama Hyundai serta CATL dan IBC yang mulai beroperasi secara bertahap pada Agustus 2026.

Rosan menyebut satu dari setiap enam mobil baru yang terjual di Indonesia kini merupakan kendaraan listrik sepenuhnya, sedangkan lebih dari dua pertiganya telah dirakit di dalam negeri.

 

Sektor Energi Bersih

PLTS Terapung Cirata.

Pada sektor energi bersih, Rosan mengatakan Indonesia memiliki potensi energi terbarukan hampir 3.700 gigawatt, tetapi kapasitas yang dimanfaatkan saat ini baru sekitar 15,4 gigawatt atau kurang dari 1%.

Pemerintah juga mendorong program tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt yang diluncurkan Presiden Prabowo pada Agustus 2026.

Sementara itu, Indonesia telah menerapkan campuran biodiesel B50 sejak Juli 2026, dengan tingkat pencampuran biodiesel 50% yang disebut sebagai tingkat mandatori tertinggi di dunia.

Rosan mengatakan B50 telah tersedia di 94% stasiun pengisian bahan bakar Pertamina dalam dua bulan setelah penerapannya.

Pemerintah juga menyiapkan campuran etanol 5% pada bensin nonsubsidi di Pulau Jawa serta kewajiban penggunaan sustainable aviation fuel mulai 2027.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan agenda keberlanjutan harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi ketahanan ekonomi karena perubahan pasar energi global meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia.

 

Peluang Ekonomi

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie saat acara Global & Domestic Economic Outlook 2026, di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (15/1/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Anindya mengatakan harga minyak dunia pada 2026 bergerak dari sekitar US$65 per barel menjadi US$ 110 per barel, sementara konsumsi minyak Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari dengan produksi domestik sekitar 600.000 barel per hari.

“Agenda keberlanjutan bukan hanya mengenai iklim, tetapi juga merupakan agenda ketahanan ekonomi bagi Indonesia,” ujar Anindya.

Anindya mengatakan kondisi tersebut mendorong Indonesia mempercepat elektrifikasi, meningkatkan energi terbarukan, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Menurut Anindya, investasi global dalam transisi energi mencapai rekor US$2,3 triliun pada 2025, sehingga Indonesia memiliki peluang untuk menarik modal melalui pengembangan energi bersih dan industri hijau.

Ia mengatakan Kadin memperkirakan peluang ekonomi net zero Indonesia dapat mencapai US$3,8 triliun hingga 2050.

Anindya mengatakan Kadin mendorong lima prioritas, yaitu mempercepat transisi energi, memperluas pasar karbon berintegritas tinggi, mendukung perusahaan menuju net zero, mengembangkan ekonomi sirkular dan waste-to-energy, serta mendorong kehutanan berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya