Nilai Tukar Rupiah Dibuka Naik ke 17.911 per Dolar AS, Tapi Rawan Koreksi

Rupiah hari ini dibuka menguat ke 17.911 per dolar AS, tetapi analis memprediksi rupiah berbalik melemah ke 17.960 per dolar AS.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Oktober 2026, 11:40 WIB
Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat tipis pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Namun, penguatan tersebut diperkirakan belum akan bertahan sepanjang perdagangan karena rupiah masih menghadapi tekanan dari sentimen global.

Rupiah naik 6 poin atau 0,03 persen ke level 17.911 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 17.917 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova memperkirakan rupiah justru akan kembali melemah setelah pembukaan perdagangan. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang 17.900 per dolar AS hingga 17.960 per dolar AS.

“Rupiah hari ini diperkirakan kembali melemah pada kisaran 17.900 per dolar AS- 17.960 per dolar AS dipengaruhi oleh global kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan indeks dolar walaupun harga minyak relatif turun dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini memudar,” ucapnya dikutip dari Antara.

Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari pasar keuangan Amerika Serikat. Yield obligasi pemerintah AS tercatat naik menjadi 5,31 persen, sementara indeks dolar AS berada di level 102,12.

Kenaikan yield obligasi AS dapat membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat mulai berkurang seiring data tenaga kerja AS yang menunjukkan pelemahan.

  Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian

Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi salah satu sentimen yang dapat memberikan ruang bagi rupiah. Berdasarkan hasil survei, probabilitas suku bunga The Fed tetap pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026 mencapai 80 persen.

Sementara itu, untuk pertemuan FOMC Desember 2026, survei menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga mencapai 69 persen.

Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada lelang obligasi pemerintah Indonesia yang berlangsung hari ini. Tingginya yield obligasi pemerintah AS menjadi tantangan bagi surat utang Indonesia untuk tetap menarik bagi investor.

Rully menilai imbal hasil yang ditawarkan obligasi pemerintah Indonesia masih cukup menarik karena selisih bunga dengan obligasi pemerintah AS relatif lebar. Namun, risiko di pasar juga meningkat.

“Lelang obligasi hari ini masih menawarkan bunga yg menarik, dimana spread selisih bunga dengan obligasi pemerintah AS masih cukup lebar namun risiko meningkat tercermin dari CDS (Credit Default Swap) 5 tahun sebesar 95,69,” ungkap Rully.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah sepanjang perdagangan Selasa akan dipengaruhi oleh perkembangan yield obligasi AS, indeks dolar, ekspektasi kebijakan The Fed, serta respons investor terhadap lelang surat utang pemerintah Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya