Liputan6.com, Paris - Seorang pelajar berusia 15 tahun kehilangan satu tangannya setelah mengambil sebuah granat polisi yang ditembakkan aparat antihuru-hara dalam gelombang aksi protes pelajar di berbagai wilayah Prancis, Senin (5/10/2026).
Dikutip dari Channel News Asia, insiden tersebut terjadi di kota Lens, Prancis utara, ketika para pelajar di seluruh negeri memprotes kondisi ruang kelas yang dinilai buruk. Aksi yang telah berlangsung selama beberapa hari itu memicu kebakaran dan pembentukan barikade di sejumlah sekolah serta mengganggu kegiatan belajar di ratusan sekolah.
Advertisement
Menurut sumber dari serikat polisi, remaja tersebut diduga mengambil granat jenis sting-ball yang ditembakkan polisi antihuru-hara. Granat itu kemudian meledak di tangannya.
Remaja berusia 15 tahun tersebut menjalani perawatan di rumah sakit di Lille. Prefek wilayah Pas-de-Calais, Francois-Xavier Lauch, mengatakan kondisi remaja itu "sudah tidak dalam bahaya".
Insiden tersebut terjadi sehari sebelum aksi demonstrasi yang diperkirakan lebih besar pada Selasa. Serikat pelajar sekolah menengah menyebut aksi itu sebagai "Act III", sementara seruan di media sosial untuk menggelar "pekan hitam" aksi protes terus bermunculan.
Kementerian Pendidikan Prancis menyatakan lebih dari 400 dari sekitar 3.700 sekolah menengah atau lycee di negara tersebut ditutup sebagian atau seluruhnya pada Senin.
Sejak akhir September, para pelajar memblokir pintu masuk ratusan sekolah. Mereka memprotes sejumlah persoalan, mulai dari kekurangan guru, jadwal pelajaran yang terlalu padat, ruang kelas yang rusak, hingga kondisi bangunan yang dinilai tidak sesuai dengan meningkatnya suhu.
"Jelas bahwa sistem pendidikan tidak berjalan," kata Alma, seorang pelajar di Lycee Charlemagne, Paris, kepada AFP.
Protes Meluas Menjelang Pemilu 2027
Gejolak tersebut terjadi hanya beberapa bulan sebelum pemilu 2027 yang akan menentukan pengganti Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Pemerintah telah berupaya merespons berbagai keluhan para pelajar. Namun, pemerintah juga menuduh aktivis kelompok kiri garis keras telah mengambil alih gerakan protes tersebut.
"Mereka berpikir bahwa hanya karena mereka membiarkan kami menyampaikan pendapat di sebuah platform, di internet, kami akan berhenti memblokir akses dan berhenti marah. Tetapi kemarahan ini sudah ada selama bertahun-tahun," kata Simon, pelajar lain di Lycee Charlemagne.
Liga Hak Asasi Manusia Prancis (LDH) pada Senin menuduh aparat keamanan menggunakan metode yang tidak proporsional dalam menghadapi demonstran, yang sebagian besar secara hukum masih berusia di bawah umur.
Sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan sedikitnya enam penyelidikan internal telah dibuka terkait dugaan tindakan kekerasan oleh polisi. Sumber itu berbicara dengan syarat anonim.
24 Sekolah Rusak
Di pusat kota Paris, puluhan pelajar sekolah menengah menggelar demonstrasi di luar sebuah sekolah. Sejumlah kendaraan yang melintas membunyikan klakson, sementara beberapa pelajar lainnya tetap masuk untuk mengikuti pelajaran.
Salah satu poster karton yang dibawa demonstran di luar Lycee Turgot bertuliskan, "Kami melewatkan pelajaran untuk memberi kalian satu pelajaran."
Di luar Lycee Gustave Eiffel, beberapa demonstran menyalakan kembang api ke arah polisi. Aparat kemudian merespons dengan gas air mata. Namun, secara keseluruhan situasi tetap relatif tenang, menurut reporter AFP di lokasi.
Gerakan protes tersebut bermula pada 17 September di sebuah sekolah menengah di kawasan Creteil, pinggiran Paris. Aksi itu awalnya digelar untuk mendukung para guru yang melakukan mogok kerja akibat kekurangan tenaga pengajar dan sumber daya.
Protes kemudian membesar dan menyebar ke berbagai wilayah Prancis. Dalam sejumlah kesempatan, aksi berubah menjadi vandalisme, termasuk perusakan halte bus, pembakaran pintu masuk sekolah, serta bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Menteri Pendidikan Prancis mengatakan sebanyak 24 sekolah telah dibakar atau dirusak sejak gerakan tersebut dimulai.
Lebih dari 5.000 orang telah ditangkap dalam rangkaian aksi tersebut. Sebanyak 87 persen dari mereka merupakan anak di bawah umur.