Flavio Bolsonaro Unggul di Pilpres Brasil di Tengah Kebangkitan Sayap Kanan

Flavio merupakan bagian dari dinasti politik sayap kanan yang dibangun ayahnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 06 Oktober 2026, 10:27 WIB
Flavio Bolsonaro (kiri) di Sao Paulo pada 29 September 2026 dan Luiz Inacio Lula da Silva di Rio de Janeiro pada 23 September 2026. (AP Photo/File)

Liputan6.com, Brasilia - Keberhasilan Flavio Bolsonaro (45) dalam pemilihan presiden (Pilpres) Brasil disebut sebagai bagian dari "gelombang biru", istilah yang merujuk pada menguatnya kembali dukungan terhadap kelompok sayap kanan di berbagai negara Amerika Latin.

Flavio memang belum meraih mayoritas mutlak sehingga pemilu harus berlanjut ke putaran kedua pada akhir bulan ini. Namun, keunggulannya yang lebih besar dari perkiraan pada putaran pertama membuat lawannya dari kubu kiri harus mencatat hasil yang belum pernah terjadi sebelumnya jika ingin mempertahankan kursi kepresidenan.

Senator Flavio merupakan putra sulung mantan Presiden Jair Bolsonaro, yang pernah dijuluki "Trump dari Negeri Tropis" karena kedekatan pandangan politiknya dengan presiden Amerika Serikat (AS) itu.

Ia belum pernah sebelumnya maju dalam pemilihan presiden. Karena itu, hasil putaran pertama cukup mengejutkan setelah ia berhasil mengungguli Presiden Luiz Inacio Lula da Silva (80) dari Partai Pekerja.

Sebelum pemungutan suara, seluruh jajak pendapat memperkirakan persaingan berlangsung sangat ketat. Lula dan Flavio bahkan disebut berada dalam posisi yang secara statistik seimbang.

Namun, hasil pemungutan suara pada Minggu (4/10) menunjukkan gambaran berbeda. Seperti dilaporkan BBC, Flavio meraih 56,1 juta suara, sedangkan Lula memperoleh 53,8 juta suara.

Keberhasilan Flavio tidak semata-mata dipengaruhi popularitasnya. Tingginya tingkat penolakan terhadap Lula diduga menjadi salah satu faktor penting.

Dalam kampanye, Flavio berusaha membangun citra sebagai politikus muda yang dinamis dan memahami keresahan generasi muda. Salah satu isu yang ia angkat adalah meningkatnya angka kriminalitas di Brasil, negara yang mencatat lebih dari 40.000 kasus pembunuhan setiap tahun.

Lembaga survei Datafolha, salah satu lembaga jajak pendapat paling disegani di Brasil, menunjukkan bahwa pemilu kali ini sangat dipengaruhi tingkat penolakan terhadap kedua kandidat.

Survei terbarunya menunjukkan bahwa menjelang hari pemungutan suara, tingkat penolakan terhadap Lula dan Flavio sama-sama berada di angka 45 persen.

Namun, posisi Lula tampaknya lebih sulit.

Salah satu jajak pendapat menunjukkan 49 persen responden tidak puas terhadap pemerintahannya, sementara tingkat kepuasan berada di angka 48 persen.

Para analis sebelumnya menyebut belum pernah dalam sejarah Brasil seorang presiden mencoba kembali maju dalam pemilu dengan tingkat ketidakpuasan publik setinggi itu.

Ketidakpuasan terhadap pemerintahan Lula memperlihatkan paradoks tersendiri. Tingkat pengangguran resmi berada di titik terendah sepanjang sejarah, sekitar 5,3 persen. Pendapatan rata-rata masyarakat juga berada pada level tertinggi sejak pencatatan dimulai.

Namun, di tengah indikator ekonomi yang terlihat cukup kuat, banyak warga Brasil tetap merasa tidak puas dengan kondisi kehidupan mereka sehari-hari.

Untuk merespons persoalan tersebut, Lula menaikkan nilai bantuan Bolsa Familia, program bantuan sosial utama pemerintah, sebesar 15 persen.

Ia juga melarang perjudian daring, yang dilegalkan pada 2018 dan kemudian banyak disalahkan atas hilangnya pendapatan rumah tangga akibat kecanduan.

 

Manfaatkan Sentimen terhadap Mahkamah Agung

Faktor lain yang turut membantu Flavio adalah sikapnya terhadap Mahkamah Agung Brasil.

Sepanjang kampanye, ia berulang kali mengkritik langkah-langkah pengadilan tersebut, sikap yang mengingatkan pada ayahnya ketika masih menjabat sebagai presiden.

Flavio mengecam putusan Mahkamah Agung yang menghukum ayahnya terkait upaya kudeta pada 2023. Saat itu, ribuan orang menyerbu gedung-gedung yang menjadi pusat tiga cabang kekuasaan negara di Brasília.

Peristiwa tersebut kerap dibandingkan dengan penyerbuan Gedung Capitol di Washington DC pada 6 Januari 2021.

Vonis 27 tahun penjara terhadap Jair Bolsonaro pada 2025 mendapat kecaman keras dari kelompok sayap kanan dan terus menuai kontroversi, terutama karena peran Hakim Alexandre de Moraes, yang menangani kasus tersebut dan dinilai dekat dengan Lula.

Flavio berhasil memanfaatkan kontroversi lain yang melibatkan Moraes untuk keuntungan politiknya, yakni skandal Banco Master yang melibatkan bankir Brasil Daniel Vorcaro, yang ditangkap pada Maret.

Vorcaro diduga menjadi dalang salah satu kasus penipuan keuangan terbesar di Brasil. Skandal itu menyeret sejumlah tokoh senior dari berbagai kubu politik.

Lula ikut terkena dampaknya secara tidak langsung setelah polisi menyebut Vorcaro diduga pernah menghubungi Moraes untuk meminta bantuan agar terhindar dari penangkapan. Moraes membantah melakukan pelanggaran.

Moraes sendiri bukan hakim yang ditunjuk oleh Lula. Namun, ia kerap dianggap sebagai sekutu Lula karena memimpin persidangan perkara kudeta Jair Bolsonaro.

Kemenangan Flavio tidak hanya terlihat dalam pemilihan presiden.

Di Senat, Partai Liberal yang dipimpin kubu Flavio melonjak dari 15 menjadi 28 kursi. Kuatnya pengaruh keluarga Bolsonaro terlihat dari terpilihnya istri mantan presiden, Michelle, serta putranya yang lain, Carlos, sebagai anggota Senat.

Lula kini menghadapi tantangan yang sangat berat. Belum pernah ada kandidat dalam sejarah Brasil yang tertinggal pada putaran pertama, lalu berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan putaran kedua.

Analis politik Dora Kramer, yang menulis untuk Folha de S Paulo, menilai Lula dan Flavio sama-sama harus memusatkan perhatian pada pemilih independen.

Ada ungkapan di Brasil bahwa politik di negara itu begitu tidak menentu sampai-sampai masa lalu pun terasa sulit diprediksi.

Pada titik ini, peluang Lula untuk membalikkan keadaan disebut terlihat semakin kecil, meski bukan berarti mustahil.

Namun, bahkan jika Lula berhasil mencatat pembalikan keadaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mengalahkan Flavio, satu hal sudah terlihat jelas: kubu kanan Bolsonarista telah mengukuhkan diri sebagai kekuatan politik yang tidak lagi bisa diabaikan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya