Bursa Asia Dibuka Menguat, Ikuti Kenaikan Wall Street

Bursa Asia mayoritas menguat pada perdagangan Selasa, mengikuti kenaikan Wall Street dan rekor baru Nasdaq.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Oktober 2026, 08:45 WIB
Bursa Asia bergerak positif, dengan Nikkei dan ASX 200 menguat setelah Wall Street ditutup naik.

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia dibuka mayoritas menguat pada perdagangan Selasa. Pergerakan ini mengikuti penguatan Wall Street setelah indeks Nasdaq Composite mencetak rekor tertinggi baru.

Mengutip CNBC, Selasa (6/10/2026), indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,22% saat pembukaan. Indeks Topix juga menguat 0,26%.

Di Korea Selatan, indeks Kospi justru turun tipis 0,15%. Sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melonjak 1,91%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik 0,32%.

Sebelumnya, kontrak berjangka saham AS bergerak mendatar pada Senin malam setelah Nasdaq Composite mencatat rekor baru.

Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,08%. Dow futures juga menguat 57 poin atau 0,1%, sedangkan Nasdaq-100 futures naik 0,09%.

Pada perdagangan reguler, Nasdaq Composite melonjak sekitar 1% hingga mencapai level tertinggi sepanjang masa sekaligus mencatat rekor penutupan baru. Dow Jones Industrial Average naik sekitar 90 poin atau 0,2%, sedangkan S&P 500 bertambah 0,7%.

 

Saham Kecerdasan Buatan

Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo. Bursa Asia bergerak positif, dengan Nikkei dan ASX 200 menguat setelah Wall Street ditutup naik. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Saham-saham yang berkaitan dengan tren kecerdasan buatan (AI) mencatat pergerakan signifikan. SpaceX melonjak lebih dari 7%, sementara Nvidia dan Tesla masing-masing naik lebih dari 2%.

Saham Meta Platforms dan Microsoft juga menguat lebih dari 1%.

Di pasar komoditas, harga minyak turun dalam perdagangan semalam. Harga minyak Brent berjangka turun 1,9% menjadi US$ 100,32 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 1,8% menjadi US$ 89,43 per barel.

Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga menjadi perhatian. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali menyentuh level yang terakhir terlihat pada 2002, dengan menembus 5,3%.

Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun juga sempat menembus 5,7%, menjadi level tertinggi dalam 24 tahun.

Lisa Shalett, kepala investasi Morgan Stanley Wealth Management, mengatakan pasar obligasi mengalami volatilitas dalam enam pekan terakhir.

“Meski demikian, meskipun volatilitas tersirat intraday meningkat, periode enam pekan ini belum mencapai level ekstrem yang memicu bear market saham pada 2022,” tulis Shalett dalam catatan kepada klien.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya