Liputan6.com, Jakarta - Hutan seluas 87 hektare di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dikembangkan menjadi kawasan pangan berbasis lingkungan melalui budidaya pohon nangka. Hasil panennya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nangka muda atau gori bagi industri kuliner gudeg Yogyakarta.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Program ini dijalankan Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY.
Advertisement
Selain memperkuat ketersediaan pangan, pengembangan kawasan hutan ini ditujukan untuk meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.
Kebutuhan nangka muda untuk industri kuliner gudeg di Yogyakarta diperkirakan mencapai sekitar sembilan ton per hari. Sementara itu, produksi lokal dari wilayah DIY baru memenuhi sekitar dua ton per hari sehingga masih terdapat defisit sekitar tujuh ton yang harus dipenuhi dari luar daerah.
Optimalisasi kawasan hutan di Gunungkidul diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pasokan nangka muda sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga ketahanan energi.
“Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan,” ujar Nanik, Senin (5/10/2026).
Libatkan 400 Petani
Pengembangan kawasan hutan pangan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Daerah DIY serta arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pemanfaatan kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pengelolaan kawasan melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.
Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, mengatakan kelompok tani telah melakukan sedikitnya tiga kali panen sejak program dikembangkan.
Dia berharap pendampingan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia terus berlanjut sehingga hasil kebun dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.
Untuk menghadapi kondisi lahan karst Gunungkidul yang cenderung kering pada musim kemarau, pengembangan kawasan dilakukan dengan sistem tumpangsari dan dukungan pengairan berbasis energi bersih.
Dalam jangka panjang, kawasan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai sumber bahan pangan dan bahan baku kuliner, tetapi juga dikembangkan menjadi kawasan eduwisata.
Hutan Pangan Berbasis Lingkungan
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, mengatakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan perusahaan diarahkan untuk memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.
“Pertamina berkomitmen untuk memastikan setiap program TJSL yang kami gulirkan tidak hanya bersifat karitatif atau momentum sesaat, tetapi memiliki dampak yang terukur, berjangka panjang, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini, kami ingin memastikan adanya transparansi dampak sosial-ekonomi yang tercipta, mulai dari kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi petani, hingga pelestarian ekosistem lingkungan secara konsisten,” ungkap Arya.
President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, mengatakan keberhasilan pengelolaan hutan tidak hanya diukur dari kegiatan penanaman atau panen, tetapi dari keberlanjutan manfaat yang dihasilkan.
“Ukuran keberhasilan kita adalah seberapa besar dampak yang tersisa lima hingga sepuluh tahun mendatang. Melalui Wanaboga Nangka, kita membuktikan bahwa ketika pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha bergandengan tangan, hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi pangan, menjaga iklim, dan menyejahterakan desa,” ungkap Agus.
Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto, menambahkan hilirisasi produk pangan berbasis potensi lokal dapat menjadi salah satu cara memperkuat ekonomi desa.
“Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan,” kata Erry.
Sebagai bagian dari dukungan kepada petani dan masyarakat sekitar, Pertamina Foundation menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga untuk mendukung mobilitas hasil panen kelompok tani.
Melalui pengembangan Hutan Wanaboga Nangka, kawasan hutan di lahan kering Gunungkidul diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan, meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.