Selat Hormuz Memanas, Ekspor Minyak Timteng Justru Tembus Level Sebelum Perang

Saat ini, sebagian besar ekspor minyak mentah dialirkan melalui jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

oleh NurmayantiDiterbitkan 05 Oktober 2026, 19:15 WIB
Matahari terbit di balik kapal tanker yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - Ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah dilaporkan melampaui level sebelum terjadi perang. Pencapaian ekspor minyak ini justru terjadi di tengah memanasnya serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

Ini terkuak berdasarkan data perusahaan pelacak aktivitas maritim Kpler, melansir straitimes, Senin (5/10/2026). Untuk pertama kalinya sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari, rata-rata pengiriman minyak secara mingguan, naik di atas rata-rata sebelum konflik yang mencapai 18 juta barel per hari, selama beberapa hari ini.

Data menyebutkan, setidaknya 16,5 juta barel minyak meninggalkan kawasan Timur Tengah, per 30 September. Namun pencapaian ini tanpa menghitung besaran ekspor dari Iran.

“Sekitar 40% saat ini (kiriman minyak) menghindari Selat Hormuz, dan sebagian besar minyak mentah yang melewati selat tersebut dipindahkan ke kapal tanker lain di lepas pantai,” kata Kpler.

Dilaporkan jika saat ini sebagian besar minyak dialirkan melalui jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pengiriman 16,5 juta barel minyak mencakup aliran minyak melalui Laut Merah, jalur yang semakin banyak digunakan untuk menghindari blokade yang sedang diupayakan Iran di Selat Hormuz. Sebelum konflik terjadi, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.

Iran masih mengklaim kendali atas selat tersebut, dan kapal-kapal yang berlayar tanpa izin dari Iran berisiko diserang. Namun, semakin banyak kapal yang berhasil melintasi kawasan tersebut, sementara jalur alternatif yang dirancang untuk menghindari Selat Hormuz kini beroperasi dengan kapasitas penuh.

Meskipun pengiriman minyak telah pulih, namun para pakar menekankan bahwa situasinya masih jauh dari normal. Iran juga masih kehilangan sebagian besar pangsa ekspornya sendiri akibat blokade tandingan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Negara Diuntungkan

Seperti diketahui, lonjakan harga minyak tidak lepas dari kekhawatiran terhadap gangguan jalur distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Arab Saudi mendapat keuntungan dari pengaktifan kembali jaringan pipa East-West, yang menghubungkan ladang-ladang minyak utama kerajaan tersebut di wilayah timur dengan terminal Yanbu di Laut Merah. Jalur ini memungkinkan Arab Saudi menghindari Selat Hormuz.

"Jaringan pipa tersebut sempat ditutup pada 11 September setelah terkena serangan yang diluncurkan dari Irak. Namun, pipa tersebut kembali beroperasi pada 22 September," kata Amena Bakr, Analis di Kpler.

Uni Emirat Arab (UEA) juga dapat menghindari Selat Hormuz berkat jaringan pipa yang menghubungkan ladang-ladang minyak di Abu Dhabi dengan Fujairah, sebuah terminal yang berada tepat di luar selat tersebut, di kawasan Teluk Oman.

Adapun harga minyak mentah dunia, Brent North Sea untuk pengiriman Desember turun 0,79% menjadi US$ 101,44 per barel.

Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November, turun 1,2% menjadi US$ 90,02 per barel.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya