Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) pada PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO).
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, (5/10/2026), pengumuman kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi terhadap INDO tersebut berdasarkan metodologi penentuan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 30 September 2026, saham perseroan dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham secara agregat menguasai 94,96% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat INDO.
Advertisement
“Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal,” mengutip keterbukaan informasi BEI.
Bursa menyebutkan pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal.
Berdasarkan data RTI, harga saham INDO ditutup naik 2,42% menjadi Rp 169 per saham. Harga saham INDO dibuka staganan di Rp 165 per saham. Harga saham INDO berada di level tertinggi Rp 169 dan terendah Rp 164 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 1.452 kali dengan volume perdagangan saham 288.295 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 4,8 miliar.
Bos Bursa Siap Buka Diskusi bagi Emiten Masuk Daftar Saham HSC
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan tetap membuka ruang komunikasi bagi emiten yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) atau kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi. Meski demikian, hingga kini belum ada emiten baru yang mengajukan proses untuk keluar dari daftar tersebut.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya tidak secara khusus memanggil atau memberikan arahan kepada emiten yang masuk kategori HSC. Namun, bursa siap berdiskusi apabila ada perusahaan yang ingin memahami atau memperbaiki kondisi kepemilikan sahamnya.
"Oh enggak. Tapi kami tentu membuka diri untuk berdiskusi bagi siapapun yang mau berdiskusi," kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Menurut Jeffrey, pendekatan serupa juga telah dilakukan pada periode sebelumnya ketika daftar HSC masih berisi 14 saham. Saat itu, sejumlah emiten datang untuk berdiskusi dengan BEI terkait status HSC. "Sama seperti yang di periode sebelumnya, 14 yang pertama itu banyak yang datang kepada kami dan berdiskusi dan toh ada 1 yang sudah keluar," ujarnya.
Belum Ada Emiten Baru yang Ajukan Keluar dari HSC
Meski sudah ada satu emiten yang berhasil keluar dari kategori HSC sebelumnya, Jeffrey mengatakan, hingga saat ini belum ada perusahaan lain yang tengah menjalani proses serupa.
Ia menegaskan, perkembangan tersebut masih bergantung pada langkah yang diambil masing-masing emiten dalam memperbaiki struktur kepemilikan sahamnya. Ia pun membuka kemungkinan daftar HSC akan terus berubah seiring evaluasi berkala yang dilakukan BEI. Baik ada emiten yang keluar maupun yang masuk, seluruhnya bergantung pada hasil peninjauan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Belum, nanti kita lihat progresnya masing-masing. Itu tergantung prosesnya. Bagaimana proses setiap 3 bulan. Ya itu kami serahkan kepada proses yang berjalan," pungkasnya.