Warga Geruduk SD di Pemalang Usai Siswa Korban Perundungan Meninggal

Ratusan warga datang untuk menyuarakan tuntutan.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 05 Oktober 2026, 16:24 WIB
Ratusan warga menggeruduk SDN 1 Kebondalem Pemalang

Liputan6.com, Jakarta - Suasana SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, mendadak memanas. Ratusan warga dan orang tua siswa mendatangi sekolah, Senin (5/10/2026), menuntut kejelasan dan keadilan atas meninggalnya MHA (7), siswa kelas 2 yang diduga menjadi korban perundungan kakak kelas.

Ratusan warga berkumpul di sekitar lingkungan SDN 1 Kebondalem. Suara tuntutan bercampur dengan keresahan para orang tua yang meminta kasus tersebut diusut secara transparan.

Ketegangan sempat terjadi ketika sebagian warga berusaha masuk ke area sekolah. Massa sempat saling dorong dengan petugas keamanan yang berjaga di depan SDN 1 Kebondalem.

Aksi berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 09.30 WIB hingga 11.30 WIB. Warga datang bukan hanya untuk mempertanyakan kematian korban, namun juga mengungkap dugaan persoalan kekerasan dan pemalakan yang disebut pernah terjadi di lingkungan sekolah setempat.

Keresahan juga menghantui kalangan orang tua yang anaknya bersekolah di SDN 1 Kebondalem. Seperti yang diungkapkan Antika (33) misalnya. Anak Antika saat ini duduk di kelas 3 SDN 1 Kebondalem. Ia bergabung dengan kalangan orang tua siswa lainnya untuk melihat langsung situasi di sekolah setempat.

“Sebagai orang tua saya mengaku resah. Karena itu, saya datang kesini untuk memantau situasi barangkali ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutur Antika yang tinggal di Desa Kaligelang Pemalang ini.

Rasa kekhawatiran Antika memang bukan tanpa alasan. Sebab jauh hari sebelumnya, Antika mengaku anaknya pernah menjadi korban dugaan kekerasan saat masih duduk di kelas 1 di SDN 1 Kebondalem.

Kala itu, kata Antika, anaknya mengeluhkan rasa sakit, demam hingga kesulitan buang air besar. Ia selanjutnya berkomunikasi dengan guru SDN 1 Kebondalem dan wali kelas. Persoalan tersebut akhirnya diselesaikan, setelah siswa yang diduga melakukan kekerasan meminta maaf.

Antika pun mengaku terkejut, sebab permasalahan yang menimpa korban ternyata lebih parah. Sebab, dugaan perundungan tersebut berujung pada kematian MHA.

“Kalau ini kan sudah keterlaluan, sudah menyangkut nyawa anak. Jadi harus ditindaklanjuti,” tandas Antika.

Antika pun mendesak adanya tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab. Ia berharap kepala sekolah maupun siswa yang menjadi pelaku dalam kasus itu, mendapatkan sanksi berat hingga dikeluarkan dari sekolah, sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.

Ketegangan di SDN 1 Kebondalem kemudian diwarnai kedatangan Plt Bupati Pemalang, Nurkholes pukul 10.10 WIB.

Nurkholes menemui perwakilan warga dan orang tua siswa, untuk mendengarkan langsung keluhan mereka. Pertemuan itu berlangsung lebih dari satu jam.

Dalam kesempatan itu, Nurkholes juga ikut menyoroti dugaan adanya upaya pihak SDN 1 Kebondalem menutupi kejadian yang menimpa MHA.

“Karena dari kejadian itu sudah menutup-nutupi, sudah mengajarkan anak untuk berbohong. Jadi menurut saya enggak bangetlah jadi kepala sekolah seperti itu,” tukas Nurkholes.

Di tengah tuntutan pengusutan kasus meninggalnya MHA, terungkap pula kesaksian lainnya mengenai dugaan pemalakan terhadap siswa di SD setempat.

Anak dari Akuyas (45) yang kini masih duduk di kelas 4, menyebut bahwa pernah dipalak kakak kelas saat hendak jajan menuju kantin sekolah. Kejadian tersebut diduga dilakukan siswa kelas 5 atau kelas 6 di SDN 1 Kebondalem.

Pihaknya mengaku telah mengajarkan anaknya untuk berani bercerita, serta melapor kepada orang tuanya jika mengalami tindakan serupa. Persoalan itu bahkan pernah disampaikan kepada pihak sekolah ketika anaknya masih duduk di kelas 2.

Sementara itu, Polres Pemalang memastikan proses penyelidikan kasus kematian MHA terus berjalan. Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M Faizal Wildan Umar membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai salah satu terduga pelaku yang disebut pindah ke Surabaya bersama orang tuanya.

“Tidak sesuai. Para pihak masih ada di Pemalang semuanya,” ujar Wildan saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (4/10/2026).

Polisi juga telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap para saksi dan kepada pihak yang diduga terkait dengan perkara ini.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya