Brand Kosmetik Menjamur, Kesiapan Formulasi hingga Regulasi Jadi Kunci Bertahan di Pasar

Dokter dan pelaku industri kecantikan melihat kebutuhan produk yang spesifik hingga perubahan kanal penjualan turut memengaruhi strategi brand kosmetik baru.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 05 Oktober 2026, 12:00 WIB
Ilustrasi brand kosmetik lokal. (unsplash.com/Brooke Lark)

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan industri kecantikan di Indonesia mendorong kemunculan berbagai brand kosmetik dan skincare. Pelaku usaha tidak hanya mengembangkan konsep produk, tapi juga perlu menyiapkan formulasi, manufaktur, legalitas, serta jalur distribusi sebelum produk dipasarkan.

PT Medkes Global Prima (Medkes) melihat kesiapan tersebut perlu dibangun sejak tahap awal pengembangan brand.  Direktur Operasional Medkes, Shella Huliselan, mengatakan pemilik brand perlu mempertimbangkan persyaratan produk sebelum menentukan proses pengembangannya.

"Ketika ingin membangun sebuah brand, pemilik brand tidak hanya perlu memikirkan produknya mau seperti apa, tapi juga bagaimana produk tersebut dapat memenuhi persyaratan yang berlaku. Karena itu, kami di Medkes berupaya mendampingi dari awal agar proses pengembangan produk dapat berjalan lebih terarah," katanya dalam keterangan pada Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 2 Oktober 2026.

Pihaknya menyediakan layanan pengembangan formulasi dan produksi bagi pemilik brand. Perusahaan juga menangani kebutuhan legalitas yang mencakup pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), notifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta sertifikasi berdasarkan karakteristik produk.

Shela mengatakan, pendampingan tersebut membuat pemilik brand tidak harus memulai seluruh proses pengembangan produk secara mandiri. Dari sisi manufaktur, perusahaan mengoperasikan tiga fasilitas dengan standar produksi yang berbeda.

Fasilitas tersebut menerapkan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Mereka memisahkan fasilitas untuk produksi kosmetik, obat, dan obat tradisional.

Pengembangan Ekosistem Industri Kecantikan

Sesi talkshow PT Medkes Global Prima (Medkes) dan Beauty World Indonesia di Cosmobeauté Indonesia 2026 di ICE BSD, Tangerang, 1 Oktober 2026. (dok. Medkes)

Fasilitas obat dan obat tradisional saat ini berada dalam tahap akhir penyempurnaan dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Medkes juga menggandeng Beauty World Indonesia dalam pengembangan ekosistem industri kecantikan.

Perusahaan menangani formulasi dan produksi, sedangkan Beauty World Indonesia memiliki pengalaman dalam distribusi, retail, serta pengembangan pasar.

Ekosistem tersebut turut menyentuh kalangan profesional kecantikan yang mengembangkan produk berdasarkan pengalaman menangani konsumen. Dokter dan klinik menjadi salah satu kelompok yang melihat kebutuhan pasien sebagai sumber ide untuk menghadirkan produk skincare.

Partner Beauty World Indonesia, dr. Samuel Stemi, mengatakan pengalaman berinteraksi dengan pasien dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan produk.

"Ketika kita punya ide untuk membuat satu brand, kita tentu mencari produsen yang tidak hanya bisa memproduksi skincare, tapi juga bisa mendukung dari sisi perencanaan formulasi dan aspek lainnya. Jadi pengembangan brand-nya bisa dilakukan dengan lebih terarah," katanya.

 

Butuh Banyak Tangan

Sesi talkshow PT Medkes Global Prima (Medkes) dan Beauty World Indonesia di Cosmobeauté Indonesia 2026 di ICE BSD, Tangerang, 1 Oktober 2026. (dok. Medkes)

Menurut dr. Samuel, pengembangan produk membutuhkan keterlibatan pihak dengan kompetensi berbeda. "Medkes menjadi salah satu pilihan yang menarik karena tidak hanya mendukung dari sisi produksi, namun juga dapat memberikan dukungan yang lebih menyeluruh hingga ke aspek pemasaran," sebut dia.

Sementara itu, General Manager Sales & Marketing B2C Beauty World Indonesia, Irine, menyebut distribusi dan retail berperan dalam memperkenalkan produk pada konsumen. Brand yang telah menyelesaikan pengembangan produk tetap perlu menentukan strategi untuk memasuki pasar.

"Karena itu, pengalaman di sisi distribusi, retail, dan pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi pelengkap dari kemampuan produksi," ucapnya. Beauty World Indonesia telah memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di industri kecantikan.

Perubahan Pola Penjualan

Ilustrasi brand kosmetik lokal. (Foto: Unsplash/Element5 Digital)

Perusahaan tersebut menangani distribusi berbagai kebutuhan industri kecantikan, serta mengembangkan kanal penjualan kepada konsumen. Perubahan perilaku konsumen turut terlihat dari penggunaan kanal digital dalam transaksi produk kecantikan.

Beauty World Indonesia mencatat perkembangan tersebut sebagai bagian dari perubahan pola distribusi dan penjualan di industri kecantikan.

Perubahan ini juga mendorong pelaku usaha memperhatikan cara memperkenalkan produk pada konsumen, termasuk menyesuaikan strategi komunikasi dengan karakter kanal penjualan yang digunakan oleh masing-masing target pasar dan kebutuhan konsumen.

"Karena itu, ekosistem menjadi penting agar pengembangan produk tidak berhenti pada proses produksi, tetapi dapat dilanjutkan hingga bagaimana produk tersebut dikembangkan dan diterima oleh pasar," tutup Irine.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya