Harga Minyak Dunia Tergelincir Setelah Ekspor Timur Tengah Meningkat

Sejumlah sentimen menekan harga minyak dunia pada awal pekan ini seperti ekspor dari Timur Tengah hingga kenaikan pasokan dari negara G7.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 Oktober 2026, 08:52 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada Senin, (5/10/2026) seiring meningkatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan pelepasaan cadangan minyak oleh negara-negara G7 menambah pasokan. Hal ini terjadi meski masih ada kekhawatiran mengenai kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur minyak di kawasan Teluk di tengah perang yang melibatkan Iran.

Mengutip CNBC, harga minyak Brent turun 35 sen atau 0,34% menjadi US$ 101,90 per barel pada pukul 01.15 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 62 sen atau 0,68% menjadi US$ 90,49 per barel.

Brent kehilangan sebagian besar keuntungan yang dicapai pekan lalu, sementara WTI turun 1,6% setelah negara-negara G7 pada Jumat sepakat untuk melepas 100 juta barel solar dan minyak mentah dari cadangan darurat serta berjanji untuk tidak menerapkan pembatasan ekspor energi menyusul tekanan dari Presiden AS Donald Trump.

Pelepasan cadangan ini akan menambah volume ekspor minyak mentah Timur Tengah, yang tercatat naik melampaui tingkat sebelum perang pada empat dari tujuh hari pada minggu terakhir September menurut data pengiriman Senin, meskipun terjadi serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

"Keputusan G7 untuk menggunakan cadangan strategis telah meredakan kekhawatiran langsung mengenai pasokan yang sebelumnya memengaruhi harga. Di saat yang sama, muncul pandangan bahwa volume ekspor Arab Saudi kembali mendekati tingkat sebelum perang, meskipun pengiriman tersebut dilakukan dengan biaya lebih tinggi dan melalui rute yang kurang efisien," tutur Analis KCM Trade, Tim Waterer.

"Kombinasi faktor tersebut cukup untuk menekan harga saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur energi di kawasan Teluk belum sepenuhnya hilang,” ia menambahkan.

Kelompok Houthi menyatakan telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi, sebagai tanggapan atas 50 serangan udara dan rudal yang dilancarkan koalisi pimpinan Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir. Belum ada konfirmasi dari pihak Arab Saudi.

 

Aramco Pangkas Harga Minyak untuk Asia

Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/Artphoto_studio

Pada Minggu, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Saudi menyatakan akan meluncurkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah negara yang dikuasai oleh kelompok Houthi yang didukung Iran.

Sementara itu, Aramco secara tak terduga memangkas harga minyak mentah untuk pasar Asia bagi pengiriman bulan November ke level terendah dalam enam tahun terakhir.

OPEC+ menunda tinjauan yang akan menentukan kuota produksi minyak 2027 bagi para anggotanya setelah perang AS-Israel melawan Iran mengganggu proyek-proyek perluasan kapasitas di seluruh Timur Tengah, sehingga menimbulkan ketidakpastian terhadap perkiraan potensi produksi di masa depan, demikian disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Sementara itu di Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Sabtu bahwa Ukraina akan semakin menggencarkan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya