Liputan6.com, Jakarta - PAL alias Agus (41), asisten rumah tangga (ART) yang menjadi tersangka pembunuhan dosen Profesor Petrus Pallangan (74), akhirnya membeberkan pengakuan kejinya kepada kepolisian. Motif utama di balik pembunuhan tersebut dipicu sakit hati tersangka lantaran gajinya tak kunjung dibayar oleh sang majikan.
Kepada petugas, tersangka mengaku bahwa gajinya sebesar Rp 2,5 juta per bulan tidak dibayarkan dengan alasan korban belum memiliki uang.
Advertisement
"Selama saya di sana, saya enggak dikasih hak saya. Gaji saya 5 bulan (tidak dibayar)," ungkap Agus menceritakan awal mula kejadian di Mapolsek Cibaka Resor Sukabumi, Minggu (4/10/2026).
Selain menuntut haknya, tersangka juga menyebutkan faktor himpitan ekonomi yang memperburuk keadaan dan memicu emosinya.
"Ada sedikit kesal, cuman juga saya juga terlilit utang," sambung tersangka saat diinterogasi.
Puncak emosi tersangka meledak ketika ia meminta izin untuk pulang kampung, namun dilarang oleh sang majikan. Hal ini memicu pertengkaran hebat di antara keduanya.
"Kami sempat cekcok sebelum itu. Ya itu, karena saya mau pulang tapi saya enggak dikasih izin," jelasnya.
Dalam kondisi kalap, Agus menggunakan bantal untuk menghilangkan nyawa majikan yang selama ini ia rawat. Ia mengaku beraksi seorang diri tanpa mengikat tangan korban.
"Satu bantal. (Sekitar) 10 menit, langsung disekap pakai bantal gitu," tambahnya.
Setelah memastikan korban tak bernyawa, tersangka melarikan diri ke Makassar dengan membawa kabur barang-barang berharga, seperti ponsel pintar dan dua kartu ATM.
Sebagai kilas balik, jasad korban sendiri baru ditemukan pada akhir pekan lalu setelah putrinya kehilangan kontak sejak pertengahan September 2026.
Kini, Agus harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dari balik jeruji besi. Ia pun mengaku sangat menyesali tindakan tersebut.
"Menyesal, sangat menyesal. Kesempatan ini juga saya minta maaf kepada keluarga korban," ucap Agus mengakhiri pengakuannya.