Liputan6.com, Jakarta - Rasa tak percaya dan duka mendalam menyelimuti warga Desa Pasar Baru Malintang, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Siswa sekolah dasar berinisial NB (9) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tragis.
Korban ditemukan tak bernyawa dengan posisi tergantung pada sebuah pohon kering di bagian belakang rumahnya, Kamis (30/9/2026) siang kemarin. Ironisnya, saat ditemukan oleh warga, korban masih mengenakan pakaian lengkap seragam sekolah.
Advertisement
Peristiwa yang menggemparkan warga sekitar ini pertama kali terungkap berkat sang adik korban yang melihat kondisi kakaknya di area belakang rumah.
Warga yang mendapati kejadian tersebut langsung bergegas memberikan pertolongan dan melaporkannya kepada aparat setempat sebelum akhirnya korban dievakuasi ke puskesmas terdekat.
"Waktu itu adiknya yang pertama kali melihat korban dalam kondisi tergantung di belakang rumah. Kami semua langsung kaget dan warga bersama petugas langsung membantu proses evakuasi korban ke puskesmas setempat," ujar Putra, salah seorang warga yang berada di lokasi kejadian.
Menanggapi insiden memilukan ini, jajaran kepolisian dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Mandailing Natal bergerak cepat dengan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Pihak kepolisian juga telah mengumpulkan sejumlah barang bukti serta memeriksa beberapa orang saksi guna mengurai misteri di balik kematian korban. Langkah autopsi juga langsung ditempuh untuk memastikan penyebab kematian secara medis.
"Tim dari Unit PPA Polres Mandailing Natal sudah turun langsung melakukan olah tempat kejadian perkara serta memintai keterangan dari beberapa orang saksi. Kami juga tengah melakukan proses autopsi guna memperjelas penyebab kematian korban secara ilmiah dan transparan," tegas Kapolres Mandailing Natal, AKBP Bagus Priandy, Minggu (3/10/2026).
Isu Perundungan Versi Keluarga
Peristiwa memilukan ini juga diwarnai narasi yang beredar di media sosial dari pihak keluarga. Ibu korban sempat menyebutkan bahwa sang anak kerap mendapatkan perundungan atau bullying di lingkungan sekolahnya.
Menanggapi tudingan tersebut, pihak sekolah secara tegas membantahnya dan menyatakan bahwa aktivitas belajar mengajar di sekolah berjalan kondusif tanpa ada indikasi perundungan seperti yang diadukan.
"Kami dari pihak sekolah sangat berbelasungkawa atas kejadian ini, namun kami membantah keras jika korban kerap mendapat perundungan atau bullying di lingkungan sekolah seperti narasi yang beredar di media sosial," ungkap Anita, selaku wali kelas korban.
Hingga saat ini, penyebab pasti kematian siswa sekolah dasar tersebut masih belum dapat dipastikan secara final.
Penyelidikan intensif terus dilakukan oleh pihak kepolisian dengan memeriksa sejumlah saksi kunci, termasuk meminta keterangan dari ibu korban, demi mendapatkan titik terang atas tragedi yang merenggut nyawa bocah tersebut.