Demo Pelajar Prancis, Ratusan Sekolah Ditutup dan Ribuan Orang Ditangkap

Ribuan pelajar di Prancis melancarkan protes besar-besaran menuntut perbaikan kondisi pendidikan.

oleh Septian DenyDiterbitkan 04 Oktober 2026, 15:00 WIB
Ribuan pelajar memblokade sekolah menengah di berbagai wilayah Prancis dalam beberapa hari terakhir untuk memprotes kondisi pendidikan. (Laurent Cipriani/AP)

Liputan6.com, Paris - Ribuan pelajar memblokade sekolah menengah di berbagai wilayah Prancis dalam beberapa hari terakhir untuk memprotes kondisi pendidikan. Aksi tersebut berkembang menjadi bentrokan dengan polisi antihuru-hara dan diwarnai kekerasan.

Puluhan orang terluka sejak demonstrasi dimulai pada akhir bulan lalu. Sementara itu, ribuan orang telah ditangkap, sebagian besar di antaranya masih di bawah umur, menurut pejabat setempat.

Dikutip dari The New York Times, Minggu (4/10/2026), protes berlangsung di tengah situasi politik yang memanas. Pemerintah Prancis tengah berupaya meloloskan anggaran dengan kebijakan penghematan, sementara negara itu juga bersiap menghadapi pemilihan presiden tahun depan.

Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray mengatakan kepada BFMTV bahwa lebih dari sepertiga dari sekitar 3.700 sekolah menengah di Prancis ditutup atau mengalami gangguan pada Kamis. Pada Jumat, lebih dari 400 sekolah kembali ditutup.

Serikat guru dan sejumlah tokoh politik turut bergabung sebagai bentuk solidaritas. Pemerintah Prancis mengakui sejumlah tuntutan pelajar sebagai hal yang sah, tetapi mengecam apa yang disebutnya sebagai "kekerasan perkotaan" dan menuduh partai sayap kiri France Unbowed mengobarkan demonstrasi.

France Unbowed membantah tuduhan tersebut.

Sebagian pelajar juga mengambil jarak dari aksi kekerasan. Namun, seruan untuk melanjutkan demonstrasi pada pekan depan terus bermunculan.

Menurut serikat pelajar yang menjadi salah satu penggerak utama gerakan tersebut, para siswa frustrasi dengan kondisi infrastruktur sekolah yang memburuk, ruang kelas yang terlalu padat, jadwal pelajaran yang berlebihan, kekurangan guru dan staf, serta minimnya pendanaan sekolah.

Sebagian pelajar juga menuntut penghapusan platform penerimaan yang dikelola pemerintah untuk pendidikan tinggi dan universitas. Mereka menilai sistem tersebut menerapkan seleksi yang tidak adil.

"Kami bukan tidak mendapat pendidikan yang baik, kami hanya tidak didengarkan," demikian bunyi salah satu spanduk yang dipasang pekan ini di depan sebuah sekolah di Seine-Saint-Denis, kawasan kelas pekerja di utara Paris yang menjadi salah satu pusat aksi protes.

"Ruang kelas tidak memiliki ventilasi, dan kami hampir tidak bisa membuka jendela," kata Issam Makhloufi, 15 tahun, siswa Rosa Parks High School di St.-Denis, kepada The New York Times.

Serikat pekerja dan partai-partai sayap kiri memanfaatkan aksi tersebut sebagai bagian dari ekspresi ketidakpuasan yang lebih luas, ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron yang telah mencapai batas masa jabatan mendekati akhir masa pemerintahannya.

"Sistem pendidikan publik berada dalam kondisi yang sangat buruk setelah 10 tahun pemerintahan Emmanuel Macron," kata Sophie Vénétitay, pemimpin serikat guru yang bergabung dalam aksi pelajar, di sela-sela aksi unjuk rasa baru-baru ini.

"Segalanya kurang," ujarnya.

 

Protes Berujung Kekerasan

Banyak demonstrasi awalnya berlangsung damai, tetapi kemudian meningkat menjadi aksi kekerasan. Menurut pejabat, sejumlah demonstran menembakkan kembang api bergaya mortir serta menyerang sekolah dan infrastruktur lainnya, menyebabkan kerusakan yang nilainya mencapai jutaan dolar.

Ratusan sekolah terdampak akibat aksi blokade tersebut. Jumlahnya terus bertambah setelah protes meluas dari pinggiran Paris ke Marseille, Lyon, dan kota-kota lainnya.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan kepada BFMTV bahwa polisi menangkap hampir 2.000 orang pada Kamis dan lebih dari 1.700 orang pada Jumat.

Kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, mengkritik penggunaan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan para pelajar yang masih di bawah umur.

Geffray mengatakan lebih dari 60 staf sekolah terluka dalam aksi tersebut, termasuk 40 kepala sekolah.

Di Nantes, demonstran membakar sebuah sekolah. Di Marseille, para pengunjuk rasa melempari mobil pemadam kebakaran. Sementara di Belfort, seorang remaja berusia 17 tahun ditangkap setelah sejumlah pelajar menyerang seorang polisi, menurut jaksa kepada BFMTV.

Nuñez mengatakan lebih dari 300 polisi dan anggota gendarmerie terluka dalam aksi protes tersebut.

Prancis memiliki sejarah panjang demonstrasi anak muda yang terkadang berujung kekerasan. Salah satunya adalah aksi mahasiswa pada 1968 yang nyaris menjatuhkan pemerintah dan turut mengubah masyarakat Prancis.

Pemerintah Berupaya Meredam Protes

Pemerintah Prancis mengecam keras aksi kekerasan dan meresponsnya dengan tindakan tegas.

Menteri Kehakiman Prancis Gérald Darmanin mengatakan pada Jumat bahwa dirinya telah mengarahkan jaksa untuk mengupayakan tuntutan pidana jika memungkinkan serta meminta pertanggungjawaban orang tua atas kerusakan yang

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya