PBNU Buat Pedoman Hari Santri 2026, Ada Agenda Khusus untuk Palestina

PBNU menyiapkan rangkaian Hari Santri 2026, termasuk mujahadah kemanusiaan untuk Palestina.

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 03 Oktober 2026, 19:01 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengaku telah bertemu Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran kepengurusan baru PBNU masa khidmah 2026-2031. (Liputan6.com/Devira Prastiwi)

Liputan6.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026. Dalam pedoman tersebut, rangkaian peringatan tidak hanya diisi apel dan ziarah, tetapi juga agenda solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.

Pedoman tersebut tertuang dalam Surat Edaran PBNU Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tertanggal 1 Oktober 2026. Surat itu ditujukan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengatakan peringatan Hari Santri tahun ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Rangkaian kegiatan diarahkan untuk memperkuat tradisi NU, memberikan pelayanan kepada masyarakat, sekaligus menunjukkan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.

"Ini perjalanan dan hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina," kata Gus Kikin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Gus Kikin, dukungan terhadap rakyat Palestina telah disuarakan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari sejak sebelum Indonesia merdeka. Tradisi tersebut kemudian terus dirawat, salah satunya melalui pembacaan Qunut Nazilah di Pesantren Tebuireng.

Dalam pedoman tersebut, PBNU meminta seluruh rangkaian Hari Santri dilaksanakan dengan mengedepankan kekhidmatan dan kesederhanaan. Setiap kegiatan juga diharapkan berorientasi pada pelayanan kepada jamaah dan warga NU.

 

Apel Hari Santri 22 Oktober

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengumumkan struktur kepengurusan masa khidmah 2026-2031 pada Rabu, 30 September 2026 malam. (Liputan6.com/Devira Prastiwi)

Salah satu agenda utama adalah Apel Hari Santri Nasional 2026 yang akan digelar secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Untuk peserta laki-laki, PBNU menetapkan penggunaan sarung berwarna gelap, atasan putih, dan peci hitam. Sementara peserta perempuan mengenakan busana muslimah bernuansa putih dengan bawahan yang menyesuaikan.

Apel dapat dilaksanakan di halaman sekretariat NU sesuai tingkatan kepengurusan. Kegiatan juga dapat dipusatkan di lingkungan pondok pesantren, rumah sakit atau klinik, sekolah, madrasah, maupun perguruan tinggi Nahdlatul Ulama.

Dalam apel tersebut, Naskah Resolusi Jihad NU juga dapat dibacakan oleh jajaran Tanfidziyah atau Badan Otonom NU.

Sebelum rangkaian kegiatan berlangsung, PBNU menginstruksikan jajaran NU untuk mengawalinya dengan ziarah ke makam ulama, aulia, maupun muharrik NU di wilayah khidmah masing-masing.

Mujahadah untuk Palestina

Perhatian khusus diberikan PBNU terhadap solidaritas kemanusiaan untuk Palestina. Seluruh jenjang kepengurusan NU diminta menggelar Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina sebagai bagian dari rangkaian Hari Santri 2026.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui majelis istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah, maupun majelis doa lainnya.

PBNU menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari riyadhah bathiniyyah sekaligus bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina.

Komitmen itu sejalan dengan perhatian Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat menerima sejumlah tokoh Palestina di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Minggu (27/9/2026).

Selain kegiatan keagamaan, PBNU juga meminta jajaran NU mengisi Hari Santri dengan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

Sejumlah kegiatan yang dapat digelar antara lain layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga dan zakat, hingga kegiatan peduli lingkungan seperti perbaikan sanitasi pesantren atau madrasah dan bersih-bersih masjid.

PBNU juga mendorong pelaksanaan halaqah yang melibatkan ulama dan pondok pesantren di wilayah masing-masing.

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya