Harga Minyak Dunia Turun Usai G7 Ambil Langkah Darurat

Harga minyak mentah melemah usai G7 sepakat lepas cadangan minyak dan diesel secara bertahap.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 03 Oktober 2026, 08:17 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah turun pada Jumat, 2 Oktober 2026 (Sabtu pagi Jakarta) setelah kelompok negara G7 mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah dan diesel untuk meredakan lonjakan harga bahan bakar.

Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), harga minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan internasional, turun 6 sen dan ditutup di level US$ 102,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 1,76 dan mengakhiri sesi di level US$ 91,11 per barel.

G7 akan menyalurkan 100 juta barel dari cadangan mereka selama empat bulan ke depan. "Dengan porsi besar pasokan diesel disalurkan di awal dalam 20 hari pertama," kata para pemimpin G7 dalam pernyataan bersama.

Anggota G7 terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, Jerman, Italia, dan Jepang.

Di saat negara-negara Barat bersiap melepas lebih banyak cadangan pasokan, ketegangan justru terus meningkat di Timur Tengah. Arab Saudi berencana melancarkan serangan terhadap militan Houthi yang didukung Iran di Yaman, menurut keterangan pejabat regional dan Barat kepada Reuters.

Pada sesi sebelumnya, harga minyak sempat ditutup menguat menyusul laporan bahwa AS mengirimkan gugus tempur kapal induk ketiganya ke Timur Tengah.

 

Minta Eropa Lepas Cadangan Diesel

Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/wirestock

 

Pemerintahan Trump telah meminta Eropa untuk merilis cadangan diesel saat dunia menghadapi kelangkaan pasokan bahan bakar akibat perang di Eropa Timur dan Timur Tengah.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis menyatakan bahwa petani, sopir truk, dan pelaku bisnis di Amerika tidak boleh dibiarkan menanggung beban dari kelangkaan diesel global ini.

Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa AS dapat menerapkan larangan ekspor diesel. Namun, ia tampak melunak terkait gagasan tersebut awal pekan ini karena mempertimbangkan dampaknya terhadap harga bensin.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), AS memasok sekitar separuh dari impor diesel Uni Eropa pada Agustus. Hal ini menegaskan betapa rentannya blok 27 negara tersebut jika larangan ekspor AS benar-benar diterapkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya