Liputan6.com, Paris - Puluhan pelajar duduk di atas tumpukan tempat sampah beroda yang digunakan untuk memblokade pintu masuk sebuah sekolah menengah di timur laut Paris, Prancis. Di barisan depan, Sophia (17) ikut menjaga barikade pada jam ketika seharusnya ia mengikuti pelajaran bahasa Spanyol.
"Kami berharap aksi ini berkembang menjadi gerakan protes besar-besaran di kalangan anak muda," tutur siswi tingkat akhir Lycee Voltaire, Paris, yang meminta nama aslinya tidak dipublikasikan seperti dilaporkan The Guardian.
Advertisement
Hari itu, Jumat (2/10/2026), merupakan hari kedua Sophia bersama ratusan pelajar lain memblokade pintu masuk sekolah hingga seluruh kegiatan belajar-mengajar dibatalkan.
"Kami hanya ingin pemerintah mendengarkan kami. Kami lebih memilih berdiri di sini daripada harus belajar dalam kondisi yang buruk. Ini satu-satunya cara agar suara kami didengar," ujarnya.
Sophia kemudian memaparkan berbagai persoalan yang menjadi keluhan para remaja di Prancis, mulai dari kurangnya pendanaan pemerintah untuk pendidikan, ruang kelas yang terlalu padat dengan jumlah murid hingga 40 orang, kondisi gedung sekolah yang rusak, rendahnya gaji guru, ketidakhadiran staf, hingga sistem pendidikan yang dinilai timpang karena latar belakang sosial turut menentukan keberhasilan siswa.
Para pelajar juga memprotes sistem daring untuk mendaftar ke perguruan tinggi yang dianggap rumit dan tidak transparan, serta suhu ruang kelas yang tidak tertahankan saat gelombang panas melanda pada Mei dan Juni.
"Anggaran pendidikan terus dipangkas habis-habisan, sementara begitu banyak dana tambahan dialokasikan untuk militer," kata Sophia, yang ingin melanjutkan studi seni dan bekerja di bidang animasi.
Ia berharap demonstrasi dan aksi blokade dapat berlanjut hingga pekan depan. Sejumlah guru terlihat berada di dekat barikade sebagai bentuk dukungan kepada para pelajar.
Pemerintah Prancis kini menghadapi krisis terburuk dalam beberapa bulan terakhir setelah dikejutkan oleh aksi ribuan remaja yang berdemonstrasi di luar sekolah-sekolah di berbagai wilayah negara itu sepanjang pekan tersebut.
Serikat pelajar menyebut sistem pendidikan Prancis kekurangan anggaran dan telah lama diabaikan. Ratusan sekolah menengah ditutup atau diblokade pada Jumat, sementara ratusan anak muda ditangkap ketika gerakan tersebut diperkirakan berlanjut hingga pekan berikutnya.
Banyak pelajar yang ikut berunjuk rasa menuding pemerintah semakin mengabaikan pendidikan menengah. Mereka menggambarkan berbagai kondisi buruk di sekolah, mulai dari plafon yang sebagian runtuh saat pelajaran berlangsung, atap bocor, kecoak, hingga bangunan yang tidak terawat.
Pelajar lain mengeluhkan jam sekolah yang terlalu panjang serta kekurangan tenaga pengajar.
Pemerintah mengakui keluhan para pelajar beralasan, tetapi mengecam aksi kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi.
Para pelajar, di sisi lain, menuduh polisi menggunakan kekuatan berlebihan dan menyebabkan sejumlah orang terluka karena kerap menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi.
Pendidikan Layak dan Dukungan Sosial
Pada Jumat pagi, suara ledakan keras terdengar ketika sejumlah orang yang berada lebih jauh dari sekolah menyalakan mortir kembang api.
"Kemarin saya mendengar suara ledakan setiap dua menit. Suaranya keras dan menakutkan ketika benda-benda itu ditembakkan mendatar, bukan ke atas," kata Yves.
"Ada orang-orang yang sengaja memancing bentrokan dengan polisi, tetapi mereka bukan murid dari sekolah kami."
Camille (18) yang ingin menjadi guru, mengatakan para pelajar juga memprotes sikap pemerintah Prancis yang dinilai tidak cukup serius menanggapi buruknya hasil negara itu dalam pemeringkatan pendidikan internasional.
"Hasil Prancis sangat buruk, padahal kami termasuk negara dengan jam sekolah paling panjang," katanya. "Pemerintah tidak mau melihat bahwa persoalannya terletak pada kualitas, bukan pada banyaknya jam pelajaran."
Lebih jauh ke arah timur, di barikade di luar Lycee Helene Boucher, para pelajar bernyanyi sambil membawa papan kardus berisi dukungan untuk warga Gaza. Mereka membentangkan spanduk yang menentang kandidat presiden dari kubu sayap kanan jauh, Marine Le Pen, yang tengah meraih dukungan tinggi dalam jajak pendapat.
Sofiane (19), mahasiswa sastra, mengatakan para pelajar khawatir pemerintah akan menghapus program makan seharga 1 euro bagi mahasiswa kurang mampu dan memangkas bantuan biaya perumahan.
"Kami juga memprotes kondisi saat gelombang panas," ungkapnya. "Sangat tidak tertahankan harus mengikuti ujian dalam suhu 35 hingga 40 derajat Celsius. Bahkan para guru mengatakan kondisi seperti itu tidak memungkinkan."
Menurut Sofiane, demonstrasi kemungkinan masih akan berlanjut.
"Anak-anak muda hanya ingin belajar dalam kondisi yang layak. Pemerintah Prancis tampaknya terkejut melihat hasil pendidikan terus memburuk, tetapi mereka tidak melakukan apa pun untuk memperbaikinya," imbuhnya.