Wamen ESDM Buka Suara Soal Harga Pertamax Cs Tak Berubah

Wamen ESDM Yuliot Tanjung menanggapi soal harga BBM nonsubsidi di tengah gejolak harga minyak dunia.

oleh Arief Rahman HakimDiterbitkan 02 Oktober 2026, 20:40 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung. (Liputan6.com/Arief Rahman Hakim)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Yuliot Tanjung memberikan tanggapan mengenai harga BBM nonsubsidi atau  harga Pertamax Cs yang ditahan meski minyak dunia bergejolak. Langkah evaluasi terus dilakukan oleh Kementerian ESDM.

Penetapan harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan biasanya disesuaikan setiap awal bulan. Namun, pada Oktober 2026 ini, Pertamina memutuskan belum mengubah harga BBM non subsidi.

Yuliot mengungkap tak ada alasan khusus mengenai hal tersebut. "Enggak, Pertamax ini menyesuaikan dengan keekonomian. Jadi, ya nanti ya seharusnya itu dari Dirjen Migas sudah menyampaikan evaluasi, yang ini, saya cek lagi," kata Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Sebelumnya, Harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamina pada 1 Oktober 2026 tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan September 2026. Harga BBM subsidi maupun nonsubsidi masih berada pada level yang sama.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap mengikuti kebijakan pemerintah.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi masih mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk kondisi masyarakat dan perkembangan harga minyak dunia.

“Per 1 Oktober harga BBM baik subsidi dan nonsubsidi masih tetap sama dengan harga per bulan September,” ujar Kitty dikutip Antara, Kamis (1/10/2026).

BBM Subsidi Tetap

Untuk BBM subsidi, pemerintah telah menetapkan harga Pertalite dan Biosolar tidak berubah hingga akhir 2026.

“Maka sampai saat ini, masih diterapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya,” kata Kitty.

Dengan demikian, masyarakat masih membeli Pertalite seharga Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.

Daftar Harga BBM

Berikut daftar harga BBM Pertamina yang berlaku per 1 Oktober 2026:

• Pertalite: Rp 10.000 per liter

• Biosolar: Rp 6.800 per liter

• Pertamax: Rp 15.950 per liter

• Pertamax Turbo: Rp 19.600 per liter

• Pertamax Green: Rp 19.150 per liter

• Dexlite: Rp 23.700 per liter

• Pertamina Dex: Rp 25.200 per liter.

Perintah Prabowo, Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga Akhir 2026

SPBU Pertamina. (Foto: Pertamina Patra Niaga)

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menanggapi riuhnya pembahasan di media sosial mengenai isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ia menegaskan bahwa harga BBM subsidi dijamin tidak akan naik hingga akhir tahun 2026, sementara penyesuaian harga BBM non-subsidi murni mengikuti mekanisme harga pasar minyak dunia.

Bahlil meminta masyarakat untuk cermat dan tidak menelan mentah-mentah kabar simpang siur terkait harga BBM di media sosial. Ia menerangkan bahwa pergerakan harga BBM non-subsidi sangat bergantung pada fluktuasi Indonesian Crude Price (ICP).

"Coba cek dulu. Kalau harga minyak non-subsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi," ujar Bahlil di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026).

Pemerintah turut menjamin pasokan BBM nasional dalam posisi aman di atas batas standar kecukupan, yakni berkisar 18–21 hari operasional. Kepastian tidak adanya kenaikan tarif BBM subsidi juga disebutnya sebagai instruksi langsung dari Kepala Negara.

"Harga minyak subsidi sampai dengan akhir tahun tidak akan ada kenaikan. Sudah, itu deal, itu perintah Pak Presiden Prabowo," tegas Bahlil.

 

Sentil Mobil Mewah dan Praktik Tangki Modifikasi

Pengendara mengisi BBM di SPBU Jakarta, Minggu (10/2). Hari ini BBM kembali diturunkan Pertamina adapun penurunan harga BBM ini, untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertamax Turbo diturunkan dari Rp 12.000 jadi Rp 11.200 per liter.(Liputan6.com/AnggaYuniar)

Di samping itu, Bahlil kembali mengimbau kelompok masyarakat berekonomi mampu untuk memupuk kesadaran dengan tidak mengonsumsi BBM subsidi yang sejatinya dialokasikan untuk warga kurang mampu.

"Saya mengimbau terus ini. Yang mampu, yang pendapatannya bagus, ekonominya menengah ke atas, mobilnya bagus, ya janganlah pakai BBM subsidi," tuturnya.

Ia menyayangkan masih maraknya praktik penyalahgunaan BBM subsidi di lapangan. Bahlil mencontohkan temuan kasus penyelewengan di Makassar, Sulawesi Selatan, di mana sebuah kendaraan didapati memodifikasi tangki agar bisa menyedot BBM subsidi dalam volume besar untuk dijual kembali.

"Memang terjadi shifting. Gimana tidak shifting kalau mobil bagus diisi minyak subsidi, habis itu dijual lagi. Ya kasihan saudara-saudara kita yang berhak menerimanya jatahnya diambil," cetusnya.

"Masa sih kita tidak malu sama saudara-saudara kita yang harus mendapatkan subsidi BBM, tapi jatahnya diambil oleh orang yang mampu," pungkas Bahlil.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya