IHSG Hari Ini Berbalik Arah Menghijau ke 6.036, Saham SMGR Melesat 3,79%

Bergerak fluktuatif, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah menghijau pada penutupan perdagangan saham Jumat, (2/10/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 02 Oktober 2026, 17:07 WIB
Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah menghijau pada penutupan perdagangan saham Jumat, (2/10/2026). Penguatan IHSG hari ini terjadi di tengah transaksi harian saham di bawah Rp 15 triliun dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke 17.883.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup menguat 0,46% menjadi 6.036,88. Indeks saham LQ45 bertambah 0,52% menjadi 595,45. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Menjelang akhir tahun ini, IHSG berada di level tertinggi 6.953,23 dan level terendah 5.979,98.

Sebanyak 319 saham menguat sehingga angkat IHSG. Namun, 337 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG. 134 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham mencapai 1.625.905 saham dengan volume perdagangan saham 121,5 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 12,3 triliun. Tercatat dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.883.

Mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham teknologi bertambah 1,51%, dan catat kenaikan terbesar. Disusul sektor saham energi mendaki 1,12% dan sektor saham consumer nonsiklikal menguat 0,67%. Lalu sektor saham basic menanjak 0,47%, sektor saham kesehatan menanjak 0,20%, sektor saham keuangan bertambah 0,19% dan sektor saham properti melesat 0,39%.

Sementara itu, sektor saham industri merosot 1,7%, dan catat koreksi terbesar. Disusul sektor saham transportasi terpangkas 1,38%, sektor saham infrastruktur terperosok 0,90% dan sektor saham consumer siklikal turun 0,07%.

Menjelang akhir pekan ini, saham SMGR naik 3,79% menjadi Rp 1.505 per saham. Harga saham SMGR dibuka bertambah 20 poin menjadi Rp 1.470 per saham. Saham SMGR berada di level tertinggi Rp 1.510 dan terendah Rp 1.455 per saham. Total frekuensi perdagangan 3.168 kali dengan volume perdagangan saham 131.658 saham. Nilai transaksi harian Rp 19,6 miliar.

 

Gerak Saham

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpampang di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Dari 10 sektor pembentuk IHSG, lima sektor saham berada di zona merah. Pelemahan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Harga saham ASII ditutup menguat 2,66% menjadi Rp 4.630 per saham. Saham ASII dibuka bertambah 30 poin menjadi Rp 4.540 per saham. Harga saham ASII berada di level tertinggi Rp 4.630 dan terendah Rp 4.540 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 8.287 kali dengan volume perdagangan saham 354.178 saham. Nilai transaksi Rp 163,1 miliar.

Harga saham UNTR melemah 1,33% menjadi Rp 26.000 per saham. Saham UNTR dibuka naik menjadi Rp 26.575 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 26.350 per saham. Harga saham UNTR berada di level tertinggi Rp 26.950 dan terendah Rp 26.000 per saham. Total frekuensi perdagangan 5.080 kali dengan volume perdagangan saham 26.206 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 68,6 miliar.

Harga saham COCO ditutup naik 3,6% menjadi Rp 115 per saham. Harga saham COCO dibuka naik tiga poin menjadi Rp 112 per saham. Harga saham COCO berada di level tertinggi Rp 115 dan terendah Rp 107 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 14.667 kali dengan volume perdagangan saham 4.210.836 saham. Nilai transaksi harian Rp 47,1 miliar.

 

Kata Analis

Selasa (9/9/2025) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk 1,47% ke level 7.653,65. Pergerakan IHSG hari ini masih melanjutkan sentimen negatif pada sore kemarin, Senin (8/9/2025) yang ditutup turun 1,28%. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Senior Market Technical Analyst PT Mira Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, pada 1 Oktober 2026, aksi jual investor asing di pasar reguler dilaporkan sekitar Rp 240 miliar, memang jauh lebih kecil dibanding sekitar Rp1,56 triliun pada 30 September lalu.

"Artinya, pelemahan IHSG pada Kamis kemarin tidak lagi disertai akselerasi foreign selling sebesar hari sebelumnya, sehingga terdapat indikasi tekanan jual mulai mereda, tinggal menantikan konfirmasi pembalikan tren,” ujar dia.

Ia menambahkan, sentimen market global global masih relatif positif mengingat salah satu faktor penting adalah pergerakan pasar obligasi AS, di mana yield Treasury 10 tahun turun 1,22% menjadi 5,246%, sehingga memberikan ruang bagi ekuitas untuk melakukan technical rebound.

Kondisi tersebut juga diperkuat oleh komentar Federal Reserve Vice Chair Philip Jefferson yang mengindikasikan pendekatan lebih hati-hati terhadap kenaikan suku bunga membantu meredakan tekanan di pasar obligasi. Menurut data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 bps pada pertemuan 28 Oktober 2026 mendatang turun menjadi sekitar 28,2%, dari 68,6% sepekan sebelumnya.

"Artinya, meskipun inflasi dan ketahanan ekonomi AS masih menjadi perhatian, ekspektasi kebijakan moneter menjadi sedikit lebih akomodatif terhadap pasar saham,” kata dia.

 

Menanti Data Ekonomi AS

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nafan menuturkan, tinggal menanti bagaimana hasil perilisan data US Nonfarm Payrolls nanti yang akan dapat mengubah kembali ekspektasi kebijakan The Federal Reserve (the Fed).

“Kendati demikian, harga minyak dunia kembali menguat karena ketidakpastian geopolitik, khususnya antara AS dengan Iran, serta kebijakan China dalam menangguhkan ekspor bahan bakar. Adapun terjadi penguatan Brent Oil sebesar 1,28% di level US$ 103,55 per barel dan Crude Oil WTI menguat 2,75% di level US$ 92,91 per barel, sehingga risiko energy-driven inflation masih menjadi salah satu sumber volatilitas utama bagi pasar global,” ujar dia.

Ia menuturkan, sentimen dari sisi politik-ekonomi domestic ialah, reshuffle kabinet menjadi sumber uncertainty jangka pendek karena para pelaku investor masih perlu menilai kontinuitas kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli, serta koordinasi antarkementerian dan dengan Bank Indonesia (BI).

“Kemudian, rupiah juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan di mana pada Kamis sebelumnya, rupiah ditutup melemah sekitar 0,40% ke Rp17.966 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi penguatan dolar AS, tingginya yield US Treasury, serta sentimen risk-off domestik yang muncul setelah reshuffle. Kondisi rupiah yang masih berada dekat 18.000 per dolar AS berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap saham-saham yang sensitif terhadap nilai tukar dan arus modal asing,” kata dia.

 

Menanti Laporan Keuangan

Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Jumat (22/9/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari sisi fundamental makro, inflasi September meningkat menjadi 3,28% YoY dari 3,19% pada Agustus, meskipun masih berada dalam sasaran inflasi BI.

Kenaikan tersebut belum menunjukkan tekanan inflasi yang mengkhawatirkan, tetapi tetap menjadi faktor yang perlu dicermati karena bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia. Apabila harga energi bertahan tinggi, ruang pelonggaran moneter BI dapat menjadi lebih terbatas dan hal tersebut berpotensi memengaruhi valuasi saham domestik.

Sementara itu, para pelaku investor menyambut musim Laporan Keuangan Kuartal III-2026 serta October Effect, dimana secara historis, masuknya kuartal IV-2026 yang dimulai pada Oktober ini sering dimanfaatkan para pelaku investor untuk akumulasi saham-saham berfundamental kuat menjelang rilis kinerja keuangan kuartal III.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya