Liputan6.com, Pemalang - Tangis pecah di tengah duka keluarga. Seorang bocah berusia tujuh tahun, MHA, siswa kelas 2 SD Negeri 01 Kebondalem, Kabupaten Pemalang Jawa Tengah akhirnya meninggal dunia.
Korban mengembuskan napas terakhir, setelah sembilan hari menjalani perawatan medis di RSUD dr M Ashari Pemalang pada Rabu (31/9/2026).
Advertisement
Sakit yang semula dikeluhkan korban pada bagian perutnya, berubah menjadi kisah pilu yang meninggalkan banyak pertanyaan. MHA meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026) sore, setelah sempat mendapat perawatan di RSUD dr M Ashari Pemalang.
Di tengah kesedihan itu, keluarga mengungkap dugaan bahwa sakit yang dialami MHA. Kedua orang tua korban menduga kematian putranya itu berkaitan dengan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Dugaan tersebut baru terungkap, setelah korban menjalani beberapa hari perawatan. Kisah pilu tersebut diceritakan oleh ibu korban, Diah Indriyanti (36).
Menurut Diah, awalnya korban sempat tidak banyak bercerita mengenai apa yang dialaminya di sekolah. Namun setelah diperiksa dokter, MHA akhirnya mengaku mengalami kekerasan pada bagian perut.
"Dia (MHA) menjawab itu setelah diperiksa sama dokter, katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu," ujar Diah yang ditemui wartawan dan dikutip pada Jumat (2/10/2026).
Selama menjalani perawatan, kata Diah, keluhan sakit pada bagian perut terus dirasakan korban. Kondisi kesehatan korban pun semakin memburuk. Korban mengalami muntah, buang air besar berdarah, kehilangan nafsu makan hingga kesulitan buang air besar.
"Selama sembilan hari (Dirawat di RSUD Pemalang) yang sering dikeluhkan itu perut. Sama seluruh badan kalau diangkat itu nangis," terang Diah menahan rasa sedih.
Setelah sembilan hari dirawat, imbuh Diah, putranya sempat diperbolehkan pulang dari RSUD Pemalang. Namun, harapan keluarga untuk melihat kondisi kesehatan anaknya pulih sedia kala, ternyata tak berlangsung lama.
Beberapa hari kemudian, sakit pada bagian perut kembali dirasakan korban. Saat keluarga hendak membawa MHA kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, kondisi bocah tersebut justru memburuk dan nyawanya tak tertolong.
Kepergian MHA meninggalkan duka sekaligus tanda tanya besar bagi keluarganya. Orang tua korban kemudian mendatangi pihak SD Negeri 01 Kebondalem. Mereka meminta penjelasan mengenai dugaan kekerasan yang dialami anak mereka.
Namun usai pertemuan dengan pihak sekolah, pihak kedua orang tua korban mengaku belum ada pertemuan kembali mempertemukan dengan orang tua anak yang diduga terlibat untuk membahas persoalan tersebut.
Kondisi itu pun dibenarkan oleh ayah korban, Nurwandi (43). Bahkan sebelum meninggal dunia, anaknya sempat menunjukkan foto teman temannya yang melakukan kekerasan terhadap dirinya.
"Anak saya itu sebelum meninggal, sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia. Dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6," ujar Nurwandi.
Serahkan ke Penegak Hukum
Kini pihak keluarga MHA menyerahkan proses pengungkapan fakta yang menimpa korban kepada aparat penegak hukum.
Mereka berharap dugaan kekerasan tersebut dapat ditelusuri secara menyeluruh. Selain itu, memastikan apa yang sebenarnya terjadi sebelum kondisi MHA memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
Aparat Satreskrim Polres Pemalang pun mulai bergerak cepat, setelah menerima informasi mengenai kematian MHA yang diduga berkaitan dengan tindakan kekerasan.
“Kami Satreskrim bersama Polsek Pemalang Kota telah menerima laporan dari masyarakat atau adanya informasi bahwa ada seorang anak meninggal dunia yang diduga akibat adanya tindakan kekerasan,” ujar Kasatreskrim Polres Pemalang AKP Faizal Wildan.
Usai menerima informasi kematian seorang bocah yang tidak wajar, polisi mendatangi rumah duka. Penyidik juga meminta keterangan awal dari orang tua dan sejumlah orang terdekat korban.
Pengumpulan keterangan dari sejumlah pihak, untuk menggali kondisi MHA sebelum meninggal dunia. Keterangan tersebut juga diperlukan untuk mengetahui informasi mengenai dugaan kekerasan maupun perundungan yang disebut dialami korban.
“Semalam kami sudah mendatangi ke rumah duka, kami sudah melaksanakan interogasi awal kepada orang tua ataupun orang-orang terdekat dengan korban,” turut Wildan.
Pada Kamis (1/10/2026) pagi, jenazah MHA menjalani autopsi di RSUD dr Ashari Pemalang. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian korban secara medis.
Polisi belum dapat memastikan kondisi jenazah maupun hubungan antara dugaan kekerasan dengan kematian MHA sebelum hasil pemeriksaan forensik keluar.
“Terkait jenazah, nanti kami akan jelaskan, kami akan dalami dengan pihak tim forensik Biddokkes Polda Jateng,” inbuh Wildan.
Autopsi melibatkan tim forensik Biddokkes Polda Jawa Tengah. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dari penyelidikan untuk mengungkap fakta medis di balik kematian bocah tujuh tahun tersebut.
“Karena saat ini terkait dengan pelaksanaan autopsi kami dibantu oleh Biddokkes Polda Jateng secara scientific crime investigation,” ujar Wildan.
Kini, keluarga masih menunggu jawaban atas rangkaian peristiwa yang mengiringi hari-hari terakhir MHA. Sementara polisi menunggu hasil pemeriksaan forensik untuk mengungkap fakta medis dan mendalami dugaan kekerasan yang dilaporkan.
Di balik kepergian seorang bocah yang masih begitu belia, tersisa satu harapan keluarga: seluruh fakta terungkap.