Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperluas surat berharga yang dapat digunakan dalam Operasi Moneter (underlying) dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Perluasan ini merupakan salah satu upaya penguatan pelaksanaan kebijakan moneter melalui operasi moneter pro-market yaitu operasi moneter yang terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).
Demikian disampaikan pada peresmian Perluasan Surat Berharga sebagai Underlying Operasi Moneter oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Menteri Keuangan Republik Indonesia Suahasil Nazara, di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Advertisement
Destry menuturkan, sinyal kebijakan moneter perlu mengalir melalui Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) agar dapat memengaruhi transaksi dan pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga.
Melalui operasi moneter pro-market, Bank Indonesia tidak hanya mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan, yang kemudian mendukung kegiatan ekonomi di sektor riil.
Sejalan dengan pengembangan ekosistem pasar keuangan yang semakin terintegrasi, perluasan underlying ini diharapkan dapat terus berkembang, mendorong transaksi pasar sekunder, memperkuat pembentukan harga, dan pada akhirnya mendukung pembiayaan bagi sektor riil, termasuk perumahan dan infrastruktur.
"Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien," tutur Destry, dikutip dari laman BI, Kamis pekan ini.
Sejalan dengan upaya itu, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan komitmen Pemerintah untuk menjaga perekonomian Indonesia dan memperkuat kredibilitas kebijakan di mata investor.
"Kami di Kementerian Keuangan, bersama LPS dan Danantara selaku sovereign wealth fund, akan terus menjaga perekonomian Indonesia dan membangun kredibilitas kebijakan bagi seluruh investor, di manapun mereka berada," tutur Suahasil.
Perluasan Underlying Operasi Moneter Telah Dilakukan Bertahap
Implementasi perluasan underlying operasi moneter telah dilakukan secara bertahap. Sejak diluncurkan pada 10 November 2025 hingga 30 September 2026, total transaksi repo operasi moneter dengan underlying obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau PT SMF telah mencapai Rp 1,25 triliun.
Perluasan underlying tersebut kemudian dilakukan dengan menambahkan obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI, dengan lelang repo perdana pada 28 September 2026 sebesar Rp 60 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menuturkan, kebijakan ini juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas di pasar keuangan, tercermin dari peningkatan volume transaksi surat berharga PT SMF di pasar sekunder dari rata-rata Rp 31,9 miliar per hari pada Oktober 2025 menjadi Rp 179,9 miliar per hari pada akhir Agustus 2026.
BI Bakal Terus Perkuat Sinergi
Pada periode yang sama, kepemilikan bank atas obligasi PT SMF meningkat 18%, dari Rp 8,69 triliun menjadi Rp 10,22 triliun. Perkembangan tersebut menunjukkan respons positif pasar yang perlu terus didorong untuk mendukung pendalaman pasar keuangan di Indonesia.
Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, serta lembaga terkait untuk mendukung implementasi operasi moneter pro-market.
Perluasan underlying operasi moneter tersebut diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan, mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar sekunder, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.