Bangkai Kapal Berumur 2.100 Tahun Ditemukan, Isinya Ribuan Artefak Kuno

Penemuan bangkai kapal ini memberikan pemahaman tentang perdagangan di zaman kuno.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 07 Oktober 2026, 19:30 WIB
Ilustrasi Bangkai Kapal (Unsplash)

Liputan6.com, Ankara - Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada hari Senin berkata para arkeolog menemukan ribuan artefak keramik, termasuk 122 piring, mangkuk, dan nampan dengan berbagai bentuk dan ukuran dari bangkai kapal berusia sekitar 2.100 tahun di lepas pantai Adrasan, di pesisir Mediterania Turki.

Dikutip dari Anadolu Ajansi, Selasa (7/10/2026), penggalian bawah air yang dimulai pada tahun 2025 di lepas pantai Adrasan, Provinsi Antalya, telah mengungkapkan sisa-sisa kapal kargo yang mengangkut peralatan makan keramik dari dunia Mediterania kuno.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Mehmet Nuri Ersoy berkata dalam postingan media sosial bahwa artefak-artefak tersebut memberikan gambaran tentang budaya makan mewah di masa tersebut.

"Kami membawa peralatan makan berusia 2.100 tahun dari kedalaman Laut Mediterania," ujar Ersoy.

"Sebanyak 122 bentuk dan ukuran piring, mangkuk, dan nampan yang berbeda-beda ini memperlihatkan budaya makan mewah di masa itu," tambahnya.

Barang muatan utamanya terdiri dari piring dan mangkuk yang diyakini berasal dari pemukiman kuno Rhosus, yang sekarang adalah distrik Arsuz, Provinsi Hatay, Turki bagian selatan.

Penemuan ini mencakup piring untuk kacang-kacangan, mangkuk sup, piring ikan, dan nampan dengan berbagai ukuran.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa barang-barang seperti ini sangat diminati di Roma dan termasuk dalam kategori peralatan makan mewah yang dijual di seluruh wilayah Mediterania.

Amfora-amfora yang dipercaya dibuat di beberapa pulau di Laut Aegea juga ditemukan di lokasi bangkai kapal tersebut, menunjukkan bahwa kapal tersebut mengangkut barang-barang dari berbagai pusat produksi.

Keramik Rhosus juga disebutkan dalam korespondensi negarawan dan orator Romawi Marcus Tullius Cicero. Menurut kementerian tersebut, dalam sebuah surat kepada temannya, Atticus, di tahun 50 SM, Cicero menulis bahwa ia telah memesan wadah keramik dari Rhosus untuknya.

 

Pengetahuan tentang Perdagangan Maritim Mediterania Kuno

Laut Adrasan, Turki (Unsplash/Raimond Klavins)

Referensi ini menunjukkan bahwa alat makan yang mereka produksi di wilayah tersebut sudah dikenal di dunia Romawi. Para peneliti mengatakan bahwa identifikasi benda-benda keramik yang terkait dengan Rhosus di bangkai kapal Adrasan bisa memberikan wawasan lebih lanjut tentang peran mereka dalam perdagangan maritim Mediterania kuno.

Kondisi dari barang-barang tersebut sebagian bergantung dengan cara muatan tersebut dikemas sebelum tenggelam. Benda-benda keramik ini ditempatkan di dalam peti kayu tanah liat di sela-selanya.

Metode ini membantu melindungi benda-benda tersebut supaya tidak pecah saat kapal tenggelam dan membantu pelestariannya selama lebih dari dua milenium.

"Artefak-artefak ini, yang masih bertahan dalam kondisi baik hingga saat ini berkat tanah liat yang diletakkan di sela-selanya saat dikemas ke dalam peti, menyimpan bukti keahlian produksi Anatolia dan sejarah perdagangan di wilayah Mediterania," tutur Ersoy.

Koin-koin yang berasal dari Antiokhia dan dari abad ke-1 SM juga membantu para peneliti menentukan usia bangkai kapal tersebut. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kapal tersebut beroperasi dalam jaringan perdagangan yang menghubungkan Antiokhia, Laut Aegea, Yunani, dan pantai Italia sekitar pertengahan abad ke-1 SM.

Para peneliti percaya kapal tersebut berangkat dari Rhosus dan kemungkinan sedang berlayar menuju Roma ketika menabrak perairan dangkal saat badai dan akhirnya tenggelam.

Bangkai kapal tersebut berada di kedalaman 42 hingga 55 meter di bawah permukaan air. Para arkeolog bawah air terus melakukan penggalian dengan bantuan robot bawah air.

Ersoy mengucapkan terima kasih kepada tim penggalian dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam penggalian warisan budaya bawah air negara tersebut.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada tim penggalian kami, yang terus melakukan pekerjaannya pada kedalaman 42 hingga 45 meter dengan bantuan robot bawah air, dan kepada semua rekan saya yang berhasil mengungkap warisan budaya 'Tanah Air Biru' kita," ucapnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya