Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap salah satu hasil evaluasi uji coba Compressed Natural Gas (CNG) 3 kg sebagai alternatif LPG 3 kg. Dalam tahap awal, pemerintah menilai pengiriman tabung CNG 3 kg harus menggunakan kendaraan dengan bak tertutup.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan ketentuan tersebut berkaitan dengan aspek keamanan dalam proses distribusi.
Advertisement
“CNG (Compressed Natural Gas) ini harus diantar dalam wadah atau truk yang tidak bersifat bak terbuka,” ujar Laode dikutip Antara, Rabu (30/9/2026).
Laode menjelaskan, rekomendasi tersebut merupakan bagian dari evaluasi uji coba CNG 3 kg yang saat ini dilakukan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Uji coba penggunaan tabung CNG 3 kg tersebut telah berlangsung sekitar tiga pekan. Selama prosesnya, pemerintah mengumpulkan data sekaligus melakukan pemeriksaan setiap hari untuk mengetahui kinerja tabung dan penggunaannya.
Setelah uji coba memasuki satu bulan, ESDM akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai aspek yang ditemukan selama pengujian.
“Jadi, itu nanti semua kami evaluasi setelah satu bulan, setelah minggu keempat,” kata Laode.
Kementerian ESDM Siapkan Skema Distribusi CNG 3 Kg
Setelah masa uji coba selesai, pemerintah akan masuk ke tahap penentuan skema distribusi CNG 3 kg. Pembahasan tersebut akan menentukan pihak yang menjual dan memasok tabung, sekaligus lokasi pengisian CNG.
Laode mengatakan produksi CNG 3 kg secara massal baru akan dilakukan setelah skema distribusi tersebut ditetapkan.
“Untuk produksi massal (CNG 3 kg), nanti setelah skemanya tadi kami tetapkan,” kata Laode.
Namun, pemerintah belum mengumumkan waktu penerapan CNG 3 kg secara lebih luas. Menurut Laode, keputusan mengenai hal tersebut akan disampaikan langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
CNG sendiri bukan teknologi baru di Indonesia. Bahlil mengatakan bahan bakar tersebut telah digunakan di sektor perhotelan, restoran, kafe atau horeka, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selama ini, pemanfaatannya masih menggunakan tabung berkapasitas besar, yakni di atas 10 hingga 20 kg. Pengembangan tabung berukuran 3 kg dilakukan untuk membuka peluang penggunaan CNG sebagai alternatif LPG 3 kg.
Tekanan CNG 3 Kg Lebih Tinggi dari LPG
Bahlil menjelaskan salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan CNG 3 kg berada pada aspek teknis. Hal ini karena tekanan gas CNG jauh lebih tinggi dibandingkan LPG.
Tekanan CNG berada di kisaran 200 hingga 250 bar, sedangkan tekanan LPG berada sekitar 5–10 bar. Perbedaan tersebut membuat desain dan aspek keselamatan tabung CNG 3 kg perlu diuji secara lebih ketat.
Pemerintah pun masih melakukan pengujian sebelum menentukan apakah CNG 3 kg dapat digunakan secara lebih luas sebagai alternatif LPG bersubsidi.
Menurut Bahlil, penggunaan CNG juga memiliki keunggulan karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Indonesia memiliki sumber gas alam yang melimpah sehingga pemanfaatan CNG diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
Pemerintah juga menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Karena itu, pemerintah terus mengkaji penggunaan CNG sebagai alternatif LPG 3 kg, termasuk aspek teknis, distribusi, dan kesiapan tabung sebelum penerapannya diperluas.