Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat pada pembukaan perdagangan Rabu, (30/9/2026). Penguatan rupiah terhadap dolar AS didorong harga minyak dunia yang tertekan.
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 56 poin atau 0,31% menjadi 17.925 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisit 17.981 per dolar AS.
Advertisement
"Penguatan ini didukung oleh harga minyak dunia yang turun cukup besar oleh berita bahwa Arab Saudi melanjutkan kembali setengah dari ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat,” ujar dia.
Mengutip Anadolu, harga minyak turun di tengah tanda-tanda membaiknya pasokan dari Timur Tengah, termasuk kembali berjalannya ekspor minyak Arab Saudi melalui jalur pipa Timur-Barat setelah perbaikan kerusakan akibat serangan pesawat nirawak.
Peningkatan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz juga turut meredakan kekhawatiran mengenai pasokan dalam waktu dekat.
Harga minyak mentah Brent internasional turun 2,8% atau sebesar US$ 2,94 menjadi US$ 102,35 per barel, sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 3,5 atau 3,8% menjadi US$ 89 per barel.
Mendekati level psikologis rupiah 18 ribu, ia menilai, Bank Indonesia juga disebut tengah kembali melakukan intervensi rupiah di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).
Senada, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah mereda dari penutupan sebelumnya seiring penurunan harga minyak global.
"Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp 17.925–Rp 18.025 per dolar AS,” kata Joshua.
Penutupan Rupiah 29 September 2026
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turun terbatas pada penutupan perdagangan Selasa, (29/9/2026). Analis menilai, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini dipicu potensi pengetatan kebijakan moneter the Federal Reserve (the Fed).
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) susut tiga poin atau 0,02% menjadi 17.981 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 17.978 per dolar AS.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level Rp 17.998 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.965 per dolar AS.
"Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir,” tutur Analis Mata Uang Ibrahim Assuabi, seperti dikutip dari Antara.
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini melihat adanya peluang sebesar 70% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober, menyusul serangkaian pernyataan bernada hawkish dari para pejabat The Fed pekan lalu.
Pasar juga menanti agenda ekonomi AS akan jauh lebih padat pada pekan ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada Rabu, 30 September 2026 diikuti oleh data ISM Manufacturing PMI pada Kamis, 1 Oktober 2026 dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Langkah Kebijakan Bank Sentral
Selain itu, pernyataan dari para pejabat The Fed juga akan dipantau untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah kebijakan bank sentral selanjutnya.
Potensi pembicaraan lebih lanjut antara AS dengan Iran sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri perang juga membayangi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pembicaraan lebih lanjut diperkirakan akan berfokus pada versi revisi dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Rencana tujuh hari Iran tersebut mencakup penghentian segala permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran senilai miliaran dolar, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran,” kata Ibrahim.