Liputan6.com, Dodoma - Pendakian sukses pertama dalam sejarah yang tercatat sampai ke puncak tertinggi di Afrika dilakukan oleh ahli geologi Jerman Hans Meyer, seorang guru dan pendaki gunung dari Austria Ludwig Purtscheller, dan seorang warga setempat bernama Yohani Kinyala Lauwo pada 6 Oktober 1889. Tim ini mencapai puncak di tepi selatan kawah pada hari ulang tahun Purtscheller yang ke-40.
Ada kemungkinan warga lokal telah sampai ke puncak Gunung Kilimanjaro sebelumnya tapi jika benar, hal tersebut tidak tercatat.
Advertisement
Dikutip dari Kilimanjaro Experience, Selasa (6/10/2026), untuk Meyer, hal ini sudah lama ia tunggu. Di tahun 1887, ia sudah sampai ke kaki Gunung Kibo tapi kemudian terpaksa mundur.
Tahun berikutnya, ia merencanakan pendakian lain bersama kartografer Oscar Baumann, tapi misi tersebut batal lantaran kerusuhan pasca pemberontakan kekerasan yang melanda sebagian besar Tanzania (yang saat itu dipanggil Tanganyika).
Akhirnya setelah penantian panjang dan percobaan yang terus gagal, Meyer berhasil sampai ke puncak Gunung Kilimanjaro.
Meyer adalah seorang yang sangat pemberani dan telah banyak berkelana untuk pria di zamannya. Sebelum sampai ke puncak Kilimanjaro, ia menghabiskan waktu di India, Amerika Utara, dan Afrika Selatan. Ia pun kemudian mendaki gunung-gunung di Kepulauan Canary dan Ekuador.
Akhir Hidup Purtscheller dan Lauwo
Sementara itu, Purtscheller meninggal dunia hanya beberapa bulan setelah ia sampai ke puncak Kilimanjaro. Ia mengalami luka parah akibat jatuh dari gunung di Pegunungan Alpen Prancis, dan meninggal di rumah sakit karena pneumonia beberapa bulan kemudian.
Dalam pidato penghormatannya, pendaki gunung dan sejarawan gunung asal AS W.A.B. Coolidge menyebutnya sebagai "pendaki gunung terhebat yang pernah ada."
Sayangnya, salah satu warisan dari kolonialisme adalah kecenderungan lebih banyak mengetahui tentang para penjajah daripada orang-orang Afrika yang membantu mereka mencapai "penemuan" atau prestasi eksplorasi tersebut.
Namun dalam kasus Yohani Kinyala Lauwo, hal ini memang pantas tidak berlaku. Ia hanya berusia 18 tahun ketika ia menjadi pemandu untuk Meyer dan Purtscheller sampai ke puncak. Setelah pendakian perdana tersebut, ia kemudian memandu pendaki Gunung Kilimanjaro selama 70 tahun dan meninggal pada usianya 125 tahun di tahun 1996, sebuah pencapaian yang luar biasa dalam kedua hal tersebut.
Cucunya, Pandaeli Lauwo, turut menjadi pemandu di gunung tersebut.
Walaupun nama Meyer dan Purtscheller mungkin masih dikenal dalam buku-buku sejarah, Yohani Kinyala Lauwo yang menjadi pahlawan sejati dalam sejarah Kilimanjaro.