UNTR Tebar Dividen Interim 2026 Rp 430, Cek Jadwal Lengkap di Sini

PT United Tractors Tbk (UNTR) akan membayar dividen interim 2026 pada Oktober 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 29 September 2026, 08:15 WIB
PT United Tractors Tbk (UNTR) (Foto: United Tractors)

Liputan6.com, Jakarta - PT United Tractors Tbk (UNTR) akan membagikan dividen interim 2026 sebesar Rp 1,478 triliun. Seiring hal itu, pemegang saham akan mendapatkan dividen interim Rp 430 per saham.

Pembagian dividen interim 2026 tersebut sesuai keputusan sirkuler direksi perseroan pada 23 September 2026, dan keputusan sirkuler dewan komisaris pada 24 September 2026. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa (29/9/2026).

Perseroan membagikan dividen interim 2026 dengan mempertimbangkan data keuangan per 30 Juni 2026 yakni laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 956,28 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 82,59 triliun, dan total ekuitas sebesar Rp 101,75 triliun.

"Pembagian dividen interim kepada pemegang saham perseroan ini tidka memberikan dampak secara material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan," tulis Corporate Secretary PT United Tractors Tbk Ari Setiyawan dalam keterbukaan informasi BEI.

Berikut Jadwal Pembagian Dividen Interim 2026:

  • Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 6 Oktober 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 7 Oktober 2026
  • Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 8 Oktober 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 9 Oktober 2026
  • Tanggal Daftar Pemegang Saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 8 Oktober 2026, waktu: 16.00
  • Tanggal pembayaran dividen pada 26 Oktober 2026

Berdasar data Google Finance, harga saham UNTR ditutup naik 0,62% menjadi Rp 24.375 per saham. Harga saham UNTR berada di level tertinggi Rp 24.625 dan terendah Rp 24.200 per saham. Kapitalisasi pasar saham Rp 90,92 triliun.

UNTR Kantongi Pendapatan Rp 58 Triliun hingga Semester I 2026

Komatsu, produk PT United Tractors Tbk (Foto: Laman United Tractors)

Sebelumnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat pendapatan dan laba kompak turun hingga semester pertama 2026. Hal itu salah satunya didorong penjualan emas lebih rendah di PT Agincourt Resources.

PT United Tractors Tbk meraup pendapatan bersih Rp 58,2 triliun hingga Juni 2026. Pendapatan perseroan turun 15% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 68,5 triliun. Hal ini terutama karena penjualan emas lebih rendah di PT Agincourt Resources dan penurunan kinerja pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal serta metalurgi sebagai dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 lebih rendah.

Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Kontraktor Penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs USD.

Laba bersih Perseroan tidak termasuk nonrecurring items turun 48% menjadi Rp 4,3 triliun, terutama karena penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources dan penurunan pendapatan yang sebagian besar mencerminkan dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.

Penjualan emas yang lebih rendah dari Tambang Emas Martabe disebabkan oleh penghentian sementara operasional tambang tersebut. Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua.

Selama semester pertama tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring items senilai Rp 3,3 triliun, terutama terdiri dari (i) penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan (ii) pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

Per 30 Juni 2026, Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp 9,4 triliun, dengan rasio gearing sebesar 8,5%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

 

Alat Berat

PT United Tractors Tbk (UNTR) makin gencar melebarkan sayap pada bisnis non batu bara.

Segmen usaha alat berat mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 27% menjadi 1.994 unit terutama disebabkan oleh penurunan penjualan big machine di sektor pertambangan sebesar 55% menjadi 325 unit, dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.

Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat sedikit meningkat dari Rp 5,4 triliun pada semester pertama tahun lalu menjadi Rp 5,5 triliun.

Total pendapatan bersih dari segmen Alat Berat turun 28% menjadi Rp 15,0 triliun.Untuk memperkuat layanan purna jual dan rantai pasok komoditas, Perseroan juga memiliki bisnis pendukung melalui anak usahanya yang menyediakan layanan engineering, manufaktur komponen dan attachment alat berat, serta menawarkan layanan logistik maritim, pembuatan dan pemeliharaan kapal.

Solusi Pertambangan

Segmen Usaha Kontraktor Penambangan

Segmen usaha Kontraktor Penambangan dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). PAMA dan KPP Mining (“PAMA Grup”) menyediakan jasa pertambangan untuk pemilik konsesi tambang, dengan membantu mereka dalam pekerjaan pemindahan tanah dan produksi batu bara serta mineral lainnya.

Hingga semester I 2026, PAMA Grup mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah yang lebih rendah sebesar 10% menjadi 481 juta bcm dan volume produksi batu bara untuk para kliennya turun 3% menjadi 67 juta ton dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,2x, mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai dengan RKAB yang telahdisetujui.

Sejalan dengan peluang bisnis yang berkembang di sektor mineral selain batu bara, PAMA Group memperkuat ekspansinya ke sektor emas dan nikel. Langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen dalam membangun portofolio bisnis yang berkelanjutan serta memperkokoh fondasi pertumbuhan jangka panjang Pama Group.,

Total pendapatan bersih dari segmen Kontraktor Penambangan naik 4% menjadi Rp27,2 triliun yang terutama disebabkan karena penguatan kurs USD.

Segmen Usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi

Segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources).

Pada semester pertama 2026, tambang batu bara Turangga Resources mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 6,0 juta ton (termasuk 1,6 juta ton batu bara metalurgi), turun 10% dari periode yang sama pada 2025.

Pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi turun sebesar 4% menjadi Rp12,9 triliun, sejalan dengan penurunan volume penjualan batu bara.

Segmen Usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya

Segmen usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 66% menjadi Rp2,4 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan penjualan emas sebesar 82%.

• Pertambangan Emas

Usaha pertambangan emas Perseroan dioperasikan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya, yang mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 23 ribu ons sampai dengan semester pertama tahun 2026 dibandingkan tahun lalu sebesar 125 ribu ons.

• Bisnis Nikel

PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 886 ribu wet metric ton (wmt) sampai dengan semester pertama tahun 2026, yang terdiri dari 260 ribu wmt saprolit dan 626 ribu wmt limonit.

Nickel Industries Limited (“NIC”) dengan kepemilikan sebesar 20,13% merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia. UT mengakui kontribusi dari NIC untuk periode enam bulan ke belakang berdasarkan hasil dari NIC pada kuartal keempat 2025 dan kuartal pertama 2026. Operasional RKEF NIC melaporkan penjualan nickel metal sebesar 61.622 ton pada kuartal keempat 2025 dan kuartal pertama 2026.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya