Harga Perak Dunia Tertekan, Level US$ 60 Jadi Ujian Penting

Harga perak dunia menghadapi ujian penting di US$ 60. Penembusan level ini dapat memperkuat tren penurunan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 29 September 2026, 09:00 WIB
(Ilustrasi perak-silver by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak dunia kini menghadapi level penting di sekitar US$ 60 per ounce. Analis logam mulia Heraeus menilai level tersebut dapat menentukan arah pergerakan harga perak dalam jangka pendek.

Harga perak spot terakhir berada di sekitar US$ 61,30 per ounce, turun 4,67% dalam sehari. Tekanan terhadap perak terjadi ketika dolar AS kembali menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat.

“Penurunan harga perak di bawah US$ 65 per ounce pada pekan lalu terjadi ketika indeks dolar kembali naik di atas 101,0, mendekati level tertinggi tahun ini,” tulis analis Heraeus dikutip dari Kitco, Selasa (29/9/2026).

Menurut mereka, kondisi tersebut membuat perak berada pada level yang sangat penting.

Jika harga perak kembali menguat menuju US$ 70 per ounce meski dolar AS naik, Federal Reserve bersikap hawkish dan imbal hasil obligasi meningkat, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa harga perak mulai membentuk dasar atau bottoming process.

Sebaliknya, penurunan kembali di bawah US$ 60 dapat menjadi sinyal bahwa tren penurunan masih berlanjut.

 

Permintaan Fisik Perak dari India

(Ilustrasi perak-silver by AI)

Heraeus menilai pergerakan harga perak saat ini masih berada dalam pola lower highs dan lower lows, yang menunjukkan tekanan bearish sejak mencapai puncaknya pada akhir Januari.

“Namun, jika perak kembali turun di bawah US$ 60 per ounce, hal ini dapat menjadi tanda berlanjutnya tren penurunan, yang ditandai dengan level tertinggi dan terendah yang semakin rendah,” tulis analis.

Tekanan terhadap harga perak juga datang dari meningkatnya imbal hasil obligasi AS. Imbal hasil US Treasury 10 tahun telah naik ke 5,22%, sementara imbal hasil riil US Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) 10 tahun mencapai 2,8%.

Menurut Heraeus, kenaikan imbal hasil riil tersebut penting bagi pasar logam mulia karena menunjukkan investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi setelah memperhitungkan inflasi.

Kondisi itu mencerminkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS dapat bertahan lebih ketat dalam waktu lebih lama.

Di sisi lain, permintaan fisik perak dari India mulai menunjukkan pemulihan. India mengimpor 15,5 juta ounce perak pada Agustus, naik 36% dibandingkan Agustus 2025.

Namun, secara kumulatif Januari-Agustus, impor India masih turun 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan pemulihan permintaan belum sepenuhnya kuat untuk mengubah tekanan harga perak dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya