Liputan6.com, Jakarta - Mata uang nasional Iran anjlok ke level terendah dalam sejarah terhadap dolar AS seiring dengan tingginya inflasi dan beratnya sanksi ekonomi yang dihadapi negara tersebut.
Berdasarkan data pashizi.com, situs yang memantau pasar valuta asing bebas di Iran, nilai tukar jual dolar AS di pasar bebas mencetak rekor tertinggi hingga menyentuh angka 2,4 juta rial.
Advertisement
Mengutip Anadolu, Senin (28/9/2026), depresiasi tajam mata uang nasional ini terjadi di tengah perjuangan Iran menghadapi sanksi berat dari AS serta tingkat inflasi tahunan yang menembus 61,4%.
Data resmi menunjukkan bahwa harga bahan pangan di negara tersebut melonjak hingga 128,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year).
Rupiah Melemah
Bank Indonesia mewaspadai potensi tekanan terhadap rupiah akibat menguatnya dolar Amerika Serikat, melonjaknya imbal hasil aset AS, serta bergesernya arus modal dari negara berkembang menuju negara maju.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menyampaikan bahwa kondisi global yang diwarnai ketatnya kebijakan moneter dan fenomena higher for longer berpotensi menekan stabilitas nilai tukar rupiah. Kondisi ini juga dapat memengaruhi neraca pembayaran Indonesia seiring pergerakan aliran modal global.
"Kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia," ujar Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senin (28/9/2026).
Destry menjelaskan, penguatan dolar AS terjadi saat kebijakan moneter global tetap ketat, sehingga aset Amerika Serikat menjadi jauh lebih menarik bagi para investor. Kondisi ini meningkatkan risiko keluarnya arus modal dari pasar negara berkembang sekaligus memberi tekanan ekstra pada mata uang lokal, termasuk rupiah.
Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp 17.855 per US$ pada 22 September 2026, atau melemah 0,78% dibandingkan posisi akhir Agustus. Untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi, BI memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%.
"Bank Indonesia akan merespons tantangan tersebut melalui bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi," tegas Destry.
Strategi Membentengi Rupiah
Guna membentengi nilai tukar rupiah, Bank Indonesia memperkuat intervensi valuta asing lewat transaksi NDF di pasar offshore, serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik. Selain itu, BI memperluas insentif lindung nilai (hedging) guna memicu masuknya modal asing dan memperkokoh stabilitas kurs.
Destry menambahkan, BI juga terus memperluas kerja sama transaksi Local Currency Transaction dengan negara mitra demi mengikis ketergantungan terhadap Dolar AS. Langkah ini diperkuat dengan menambah likuiditas mata uang lokal seperti yuan dan yen di pasar uang maupun pasar valuta asing.
Tekanan terhadap rupiah makin terasa akibat meroketnya harga minyak dunia yang menyentuh US$ 125,53 per barel pada 24 September 2026. Lonjakan harga komoditas ini menambah deretan risiko eksternal karena berpotensi memicu inflasi dan menekan neraca eksternal.
Sebelum kembali tertekan oleh ketidakpastian global yang meningkat, Bank Indonesia mencatat rupiah sebenarnya sempat bergerak menguat sepanjang Agustus hingga pertengahan September 2026.