Nilai Tukar Rupiah Nyaris 18.000 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Rupiah hari ini ditutup melemah 75 poin 17.978 per dolar AS. Konflik Iran-AS dan agenda ekonomi AS jadi perhatian pasar.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 28 September 2026, 16:46 WIB
Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta. Rupiah melemah 75 poin atau 0,42 persen menjadi 17.978 per dolar AS dari posisi sebelumnya 17.903 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026). Rupiah melemah 75 poin atau 0,42 persen menjadi 17.978 per dolar AS dari posisi sebelumnya 17.903 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah. JISDOR berada di level 17.965 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya 17.917 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi eskalasi konflik Iran dan AS serta perhatian pasar terhadap sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan perkembangan konflik Iran dan AS menjadi salah satu sentimen yang menekan rupiah.

"Situasi Selat Hormuz memanas, setelah delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz," ucapnya dikutip dari Antara.

Menurut Ibrahim, Iran disebut tetap mempertahankan sejumlah syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz meskipun proposal tersebut telah ditolak Presiden AS Donald Trump.

 

Menanti Rilis Data AS

Petugas valas menghitung mata uang dolar AS di DolarAsia Valas di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Banten. Rupiah melemah 75 poin atau 0,42 persen menjadi 17.978 per dolar AS dari posisi sebelumnya 17.903 per dolar AS. (merdeka.com/Arie Basuki)

Usulan Iran mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sambil melanjutkan negosiasi yang lebih luas. Namun, terdapat sejumlah syarat yang diajukan, antara lain Washington mencabut blokade angkatan laut, mengurangi tekanan militer, menghapus sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata.

Iran menyatakan tetap berpegang pada persyaratan tersebut meskipun Trump menolaknya.

Di sisi lain, pasar keuangan juga bersiap menghadapi agenda ekonomi AS yang cukup padat sepanjang pekan ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan dirilis pada Rabu (30/9/2026).

Selanjutnya, data ISM Manufacturing PMI akan dirilis pada Kamis (1/10/2026), kemudian laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat (2/10/2026).

Serangkaian data tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.

"Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan," ujar Ibrahim.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya akan turut dipengaruhi perkembangan konflik Iran-AS serta respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya