Liputan6.com, Jakarta - Mazda memperbarui SUV listrik ukuran menengahnya, CX-6e, dengan teknologi sensor LiDAR yang ditempatkan di bagian atap. Penambahan teknologi tersebut membuat Mazda CX-6e memiliki kemampuan Navigation on Autopilot (NOA) untuk membantu pengemudi di jalan tol maupun area perkotaan.
Di pasar China, Mazda CX-6e dikenal dengan nama EZ-60. Varian terbaru yang sudah dibekali LiDAR ditawarkan mulai 145.900 yuan atau sekitar Rp352 jutaan dengan asumsi kurs 1 yuan setara Rp2.415.
Advertisement
Mengutip CarNewsChina, Senin (28/9/2026), kehadiran LiDAR menjadi salah satu pembaruan utama pada CX-6e. Sensor tersebut bekerja bersama rangkaian sensor lain untuk meningkatkan kemampuan sistem bantuan berkendara.
LiDAR yang dipasang di bagian atap Mazda CX-6e bukan sekadar aksesori tambahan. Teknologi ini digunakan untuk mendukung sistem bantuan berkendara tingkat lanjut atau Advanced L2.
Mazda menyebut sistem tersebut mampu menangani lebih dari 200 skenario berkendara. Selain LiDAR, CX-6e juga mengandalkan tiga radar mmWave, 12 radar ultrasonik, dan 11 kamera untuk membaca kondisi di sekitar kendaraan.
Kombinasi berbagai sensor tersebut memungkinkan mobil melakukan sejumlah manuver secara otomatis dengan tetap berada dalam kategori sistem bantuan pengemudi Level 2.
Pada perjalanan di jalan tol dengan kecepatan 0-130 km/jam, sistem dapat membantu melakukan perpindahan lajur, mendahului kendaraan lain, serta menangani navigasi saat masuk dan keluar akses jalan tol.
Sementara di area perkotaan dengan rentang kecepatan 0-80 km/jam, sistem bantuan berkendara CX-6e dapat menangani persimpangan, bundaran, hingga manuver putar balik atau U-turn.
Sistem juga memiliki kemampuan melakukan manuver untuk menghindari rintangan dalam kondisi tertentu. Mazda turut membekali fitur parkir otomatis yang dapat melakukan manuver secara otomatis berdasarkan kondisi yang dideteksi sistem.
Di China, varian Mazda CX-6e yang sudah menggunakan LiDAR ditawarkan dengan harga mulai 145.900 yuan. Dengan asumsi kurs Rp2.415 per yuan, nominal tersebut setara sekitar Rp 352,5 juta.
Sebagai pembanding, Tesla Model Y di China memiliki harga awal 263.500 yuan atau sekitar Rp 636 jutaan dengan asumsi kurs yang sama.
Namun, perbandingan harga tersebut perlu dilihat berdasarkan pasar dan konfigurasi masing-masing kendaraan. Harga di China juga tidak dapat dijadikan patokan langsung apabila CX-6e nantinya dipasarkan di negara lain.
CarNewsChina mencatat, varian CX-6e dengan LiDAR tersedia dalam pilihan penggerak listrik murni maupun EREV. Harga versi LiDAR berada di atas varian standar, dengan tambahan sekitar 12.000 yuan untuk konfigurasi yang setara.
Dibekali Layar Besar
Beralih ke interior, Mazda CX-6e menawarkan pendekatan yang berbeda dibandingkan model Mazda konvensional.
SUV ini menggunakan layar infotainment interaktif berukuran 26,45 inci dengan resolusi 5K. Layar tersebut membentang dari area konsol tengah hingga ke sisi penumpang depan.
Untuk pengemudi, tersedia pula teknologi Head-Up Display (HUD) berukuran 50 inci yang memproyeksikan informasi berkendara ke area pandang pengemudi.
Perpaduan layar besar dan sistem bantuan berkendara tersebut membuat CX-6e memiliki karakter teknologi yang cukup berbeda dari model Mazda bermesin konvensional.
Mazda CX-6e dikembangkan menggunakan arsitektur EPA1 milik Changan dan memiliki hubungan teknis dengan Deepal S07. Model ini merupakan bagian dari strategi kendaraan energi baru Mazda di pasar China.
Untuk pilihan pertama, CX-6e tersedia dalam versi Battery Electric Vehicle (BEV) atau listrik murni. Varian ini menggunakan baterai LFP berkapasitas 77,94 kWh dari CALB yang menggerakkan motor listrik belakang berdaya 190 kW atau sekitar 255 hp.
Berdasarkan metode pengujian CLTC, jarak tempuhnya mencapai sekitar 585-600 km. Sistem pengisian cepat 3C memungkinkan baterai diisi dari 30 hingga 80 persen dalam waktu sekitar 15 menit.
Sementara pilihan kedua adalah Extended-Range Electric Vehicle (EREV).
Versi ini menggunakan baterai LFP 31,73 kWh yang dipadukan dengan mesin bensin 1.5 liter naturally aspirated berdaya 72 kW atau sekitar 97 hp.
Mesin tersebut berfungsi sebagai generator untuk memasok energi ke sistem kendaraan, sementara penggerak utama tetap menggunakan motor listrik.
Dalam mode listrik murni, CX-6e EREV mampu menempuh sekitar 200 km berdasarkan metode CLTC sebelum generator bensin mengambil peran untuk memperpanjang jarak perjalanan.
Secara dimensi, Mazda CX-6e memiliki panjang 4.850 mm dengan jarak sumbu roda atau wheelbase mencapai 2.902 mm. SUV ini juga memiliki desain yang cukup aerodinamis dengan koefisien hambatan udara atau Cd 0,258.
Dimensi tersebut menempatkan CX-6e di segmen SUV berukuran menengah, sementara penggunaan platform EPA1 Changan menjadi bagian penting dari pengembangan kendaraan energi baru Mazda di China.
Dengan tambahan LiDAR, sistem NOA, pilihan penggerak EV dan EREV, serta teknologi kabin berlayar besar, CX-6e terbaru menjadi salah satu model Mazda yang paling sarat teknologi di pasar China.