Liputan6.com, Kuala Lumpur - Siti Hasmah, istri mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, meninggal dunia hari ini dalam usia 100 tahun.
Menurut laporan Free Malaysia Today, ia tutup usia di Institut Jantung Negara sekitar pukul 09.25 waktu setempat.
Advertisement
Siti Hasmah lahir sebagai anak keenam dari 10 bersaudara. Sejak bersekolah di Klang hingga melanjutkan pendidikan kedokteran di Singapura, ia sudah menunjukkan tekad untuk mengejar pendidikan pada masa ketika kesempatan bagi perempuan Melayu masih terbatas.
Ia menempuh pendidikan di King Edward VII College of Medicine, Singapura, dan lulus pada 1955. Setelah menyelesaikan studinya, Siti Hasmah menjadi salah satu dokter perempuan Melayu pertama pada masa ketika wilayah tersebut masih dikenal sebagai Malaya.
Ia tercatat pula sebagai perempuan pertama yang menjadi pegawai medis di Departemen Kesehatan Ibu dan Anak, serta perempuan pertama yang diangkat sebagai Pejabat Kesehatan Ibu dan Anak tingkat negara bagian di Kedah.
Pengalamannya bertugas di Kedah membawa Siti Hasmah berhadapan langsung dengan berbagai persoalan kesehatan masyarakat, terutama di daerah pedesaan.
Dalam wawancara dengan UNICEF pada 2021, ia mengenang banyak warga desa saat itu enggan atau terlambat datang ke rumah sakit karena keterbatasan transportasi dan biaya.
"Tidak ada transportasi, tidak ada uang untuk menyewa taksi. Sangat menyedihkan," kenangnya.
Menurut Siti Hasmah, tantangan tenaga kesehatan saat itu bukan hanya menyediakan layanan medis, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit.
"Pola pikirnya ketika itu, kalau pergi ke rumah sakit, Anda akan meninggal," ujarnya.
Selain menangani pasien, Siti Hasmah terlibat dalam upaya meningkatkan layanan persalinan di daerah pedesaan. Para bidan dilatih menerapkan proses persalinan yang lebih bersih dan menggunakan perlengkapan steril, sementara layanan kebidanan diperkuat melalui klinik dan tenaga kesehatan yang dapat menangani kasus yang membutuhkan pertolongan lebih lanjut.
Siti Hasmah sendiri mengatakan sudah membantu proses persalinan sejak masih berusia sekitar 23 atau 24 tahun dan menempuh pendidikan di universitas.
"Saya senang membantu persalinan," tuturnya.
Di luar pekerjaannya sebagai dokter, Siti Hasmah aktif menyuarakan kesehatan ibu dan perempuan, keluarga berencana, pemberantasan buta huruf, pencegahan penyalahgunaan narkoba, hingga kesehatan mental.
Ia pernah menjabat sebagai presiden Bakti, organisasi kesejahteraan para istri menteri dan wakil menteri. Siti Hasmah pernah memimpin Persatuan Pandu Puteri Malaysia, yang kurang lebih setara dengan gerakan Pramuka putri, serta Kedah Family Planning Association.
Perjalanan hidup Siti Hasmah kemudian berkelindan dengan Mahathir. Keduanya pertama kali bertemu pada 1947 ketika sama-sama menempuh pendidikan di King Edward VII College of Medicine, Singapura.
Mereka menikah pada Agustus 1956. Pasangan tersebut memiliki empat anak, yakni Marina, Mirzan, Mokhzani, dan Mukhriz, serta mengadopsi tiga anak, yaitu Melinda, Mazhar, dan Maizura.
Mengutip laporan The Star, Mahathir dan Siti Hasmah memiliki 18 cucu dan empat cicit.
Semasa mendampingi Mahathir yang menjabat sebagai perdana menteri dalam dua periode berbeda—yakni periode pertama pada 1981–2003 dan periode kedua pada 2018–2020—Siti Hasmah tetap aktif dalam berbagai isu kesehatan dan sosial.
Pada 2019, ia menjalani operasi untuk mengangkat benjolan di payudara yang terdeteksi sejak dini. Setelah menjalani prosedur tersebut, Siti Hasmah mengimbau perempuan untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
Dua tahun kemudian, di tengah pandemi, ia menyampaikan kekhawatiran terhadap maraknya informasi antivaksin. Berbekal pengalaman panjangnya menghadapi berbagai penyakit menular, Siti Hasmah kembali menekankan pentingnya vaksinasi dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.