Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia-Pasifik bergerak beragam pada awal perdagangan Senin. Investor mencermati perkembangan di Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Senin (28/9/2026), indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,29%, sedangkan Topix menguat 0,17%.
Advertisement
Di Korea Selatan, Kospi turun 0,41% saat pembukaan setelah libur selama dua hari. Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga melemah 0,16%.
Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 bergerak datar.
Pergerakan bursa Asia diperkirakan cenderung terbatas karena investor masih mengantisipasi potensi gangguan pasokan minyak setelah Trump dilaporkan menolak proposal gencatan senjata bersyarat dari Iran.
Kontrak berjangka Nikkei 225 di Chicago berada di level 66.275, sedangkan kontrak di Osaka terakhir diperdagangkan pada 66.470. Angka tersebut dibandingkan dengan penutupan Nikkei sebelumnya di 66.364,20.
Adapun kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 24.501, dibandingkan penutupan sebelumnya di 24.510,09.
Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Naik
Kontrak berjangka S&P/ASX 200 Australia terakhir diperdagangkan di 8.720. Sebelumnya, indeks tersebut ditutup pada 8.665.
Pergerakan pasar Asia turut dipengaruhi keputusan Trump menolak proposal bersyarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. The Wall Street Journal melaporkan Trump mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan serangan terhadap Iran kembali dilakukan setelah pemilihan umum paruh waktu pada November.
Namun, Trump dilaporkan kepada Axios pada Minggu mengatakan pembicaraan dengan Iran diperkirakan kembali berlangsung dalam sepekan mendatang.
Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak mentah AS naik lebih dari 1% pada perdagangan Senin selama jam perdagangan Asia.
Kondisi ini menjadi perhatian investor karena potensi gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz dapat memberikan tekanan terhadap pasar energi dan memengaruhi sentimen perdagangan di kawasan Asia.