Kontras Real Madrid di Tangan Jose Mourinho, Edisi 2026 Lebih Rapuh dari 2010

Jose Mourinho kembali ke Real Madrid setelah pergi 13 tahun. Ia menghadapi situasi yang 180 derajat berbeda dari periode pertama.

oleh Deniz AkbarDiterbitkan 27 September 2026, 19:00 WIB
Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho (kiri), berjabat tangan dengan Vinicius Junior, saat pertandingan persahabatan pramusim antara FC Schalke 04 dan Real Madrid di Gelsenkirchen, Jerman bagian barat, pada 16 Agustus 2026. (INA FASSBENDER / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Setelah 16 tahun sejak debut resminya menangani Real Madrid pada Agustus 2010, Jose Mourinho kembali ke Santiago Bernabeu. Sama seperti musim debutnya, The Special One mewarisi skuad El Real yang gagal meraih trofi pada edisi sebelumnya.

Perbedaan signifikan adalah pada musim 2010/2011, Mourinho datang ke Real Madrid dengan status juara treble bersama Inter Milan. Kali ini, sosok asal Portugal tersebut diboyong dari Benfica usai sebelumnya juga menahkodai klub besar asal Turki, Fenerbahce.

Memasuki jeda internasional bulan September, situasi yang dihadapi The Special One jauh dari kata mudah. Mereka kini bertengger di peringkat ke-4 LaLiga dan tertinggal 6 poin dari rival abadi Barcelona di puncak klasemen. Mereka juga telah kebobolan 8 kali dalam 7 laga.

Kualitas skuad dan gaya permainan Real Madrid pada dua periode memengaruhi efek Mourinho di lapangan. 


Memudarnya Los Galacticos

Pemain Real Madrid Bernardo Silva (kiri) dan Kylian Mbappe merayakan gol dalam laga La Liga Spanyol antara Real Madrid vs Real Sociedad di Madrid, Spanyol, Rabu, 26 Agustus 2026. (AP Photo/Manu Fernandez)

Mourinho datang ke Bernabeu musim 2026/2027 dengan dukungan dana sang presiden, Florentino Perez, yang mengeluarkan biaya transfer 225 juta euro. Pembelian termahalnya berasal dari winger asal RB Leipzig, Yan Diomande yang menghabiskan lebih dari 100 juta euro.

Perbedaan kualitas skuad El Real kali ini dengan musim 2010/2011 cukup kontras. Pada periode pertama Mourinho, Real Madrid mendatangkan nama seperti Ozil dan Di Maria, serta 2 nama lain kurang dari 75 juta euro. Tim mereka juga sudah diperkuat megabintang seperti Cristiano Ronaldo dan Sergio Ramos.


Lini Pertahanan yang Rapuh

Pemain Real Madrid, Ibrahima Konate, menanduk bola dalam laga kontra Rayo Vallecano di Santiago Bernabeu, Minggu (13/9/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Manu Fernandez)

Sepanjang musim 2010/2011, Real Madrid hanya kebobolan 33 gol di LaLiga. Angka tersebut hanya kalah dari FC Barcelona yang keluar sebagai juara. Musim ini, catatan 8 gol dari 7 pertandingan menjadi bukti rapuhnya pertahanan El Real. Padahal, kedalaman lini belakang telah ditambal.

Sejumlah pihak meyakini bahwa faktor utama mudahnya Real Madrid kebobolan adalah hilangnya filter di lini tengah. El Real hingga saat ini belum menemukan pengganti yang sepadan sepeninggal Casemiro, Toni Kroos, dan Luka Modric.


Intensitas yang Inkonsisten

Gelandang Real Madrid Inggris #05, Jude Bellingham, merayakan bersama rekan satu timnya Penyerang Real Madrid Prancis #10, Kylian Mbappe, dan penyerang Real Madrid Maroko #21, Brahim Diaz, setelah mencetak gol kedua timnya selama pertandingan liga Spanyol antara Real Madrid CF dan Malaga CF di Stadion Santiago Bernabeu di Madrid pada 30 Agustus 2026. (Thomas COEX/AFP)

Data menunjukkan bahwa performa anak asuh Jose Mourinho selalu anjlok memasuki babak kedua pada musim ini. Meski punya lini serang ganas dan dapat diandalkan, penguasaan lapangan saat tak memegang bola jadi kesulitan tersendiri bagi tim.

Dengan performa lini depan yang mirip, skuad El Real musim 2010/2011 lebih pandai dalam mengontrol pertandingan. Keseimbangan antarlini juga memudahkan pekerjaan The Special One. Kini, ia harus mencari cara untuk membawa hal serupa kepada Kylian Mbappe dan kawan-kawan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya