Harga Emas Antam Hari Ini 27 September 2026 Stabil, Cek di Sini

Berikut daftar lengkap harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Minggu, (27/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 27 September 2026, 08:42 WIB
Pegawai melayani beberapa pelanggan di Galeri 24, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) stabil pada perdagangan hari ini, Minggu (27/9/2026).

Mengutip laman resmi logammulia.com, harga emas Antam ditetapkan Rp 2.613.000 per gram. Harga emas Antam itu sama dengan perdagangan kemarin di Rp 2.613.000 per gram.

Demikian juga harga buyback (beli kembali) emas Antam stabil. Hari ini, harga buyback stagnan di Rp 2.438.000 per gram. Sebagai informasi, harga buyback merupakan nominal yang diterima pemilik emas ketika menjual kembali emas batangannya ke Antam, sedangkan harga yang tercantum pada awal perdagangan merupakan harga jual Antam kepada konsumen.

Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram.

Harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga emas dunia serta kondisi pasar.

Rincian Harga Emas Antam, Minggu (27/9/2026):

  • 0,5 gram: Rp 1.356.500
  • 1 gram: Rp 2.613.000
  • 2 gram: Rp 5.176.000
  • 3 gram: Rp 7.746.000
  • 5 gram: Rp 12.880.000
  • 10 gram: Rp 25.680.000
  • 25 gram: Rp 64.035.000
  • 50 gram: Rp 127.905.000
  • 100 gram: Rp 255.660.000
  • 250 gram: Rp 638.840.000 (pre-order)
  • 500 gram: Rp 1.277.400.000 (pre-order)
  • 1.000 gram: Rp 2.553.600.000 (pre-order).

Harga Emas Dunia Kembali Melemah

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Sebelumnya, harga emas kembali mengakhiri pekan di zona merah. Pasar terus berupaya mempertahankan level US$ 4.300 per ons di tengah berbagai risiko penurunan. Meski demikian, sejumlah analis menilai harga emas masih cukup tangguh.

Tekanan jual emas sepanjang pekan ini relatif terbatas, meski imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam dua dekade, yakni 5,20%.

Mengutip Kitco, Sabtu (26/9/2026), harga emas spot terakhir diperdagangkan di kisaran US$ 4.292 per ons, turun lebih dari 2% dibandingkan posisi Jumat pekan lalu.

“Pasar semakin memperhitungkan kenaikan suku bunga di AS yang lebih cepat dari perkiraan. Hal ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan pada akhirnya meningkatkan suku bunga riil,” kata Analis Komoditas Commerzbank Barbara Lambrecht.

“Hal ini meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas,” lanjutnya.

Namun, Commerzbank mengingatkan bahwa harga emas saat ini masih relatif tinggi. Dua bulan lalu, emas masih berjuang mempertahankan level US$ 4.000 per ons ketika imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga jauh lebih rendah.

 

Pembelian Emas oleh Bank Sentral

Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Lambrecht menilai kondisi tersebut menunjukkan investor jangka panjang masih mempertahankan kepemilikan emas melalui exchange-traded fund (ETF).

“Hal yang menggembirakan adalah investor dengan orientasi jangka panjang masih berinvestasi pada ETF emas. Oleh karena itu, kami menilai potensi koreksi akan terbatas,” ujarnya.

Kepala Logam Britannia Global Markets Neil Welsh mengatakan pasar emas masih memiliki penyangga struktural meski tekanan jual meningkat. Faktor tersebut antara lain pembelian emas oleh bank sentral yang kuat, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung, serta kekhawatiran fiskal yang semakin dalam.

Sementara itu, Joy Yang, Global Head of Index Product Management di MarketVector Indexes, mengatakan emas juga mendapat dukungan dari rendahnya volatilitas pasar saham.

Indeks S&P 500 masih berada di dekat rekor tertinggi, yakni di atas 7.000 poin, meski inflasi meningkat dan imbal hasil obligasi berada di level tinggi.

“Sepertinya investor saham terlalu percaya diri terhadap risiko yang meningkat di pasar obligasi. Namun, saya menduga sebagian investor menggunakan emas sebagai lindung nilai dan hanya menunggu untuk melihat apakah tekanan inflasi mulai mereda,” kata Yang.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya