Merdeka Copper Gold Tak Lagi Rugi

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan laba bersih US$ 102 juta pada semester I 2026, berbalik dari rugi US$ 16 juta pada periode yang sama tahun lalu.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 September 2026, 09:05 WIB
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). (Foto: Merdeka Copper Gold)

Liputan6.com, Jakarta - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 102 juta pada semester I 2026. Capaian tersebut berbalik dari rugi US$ 16 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan kinerja ditopang penguatan bisnis nikel dan emas. Pendapatan konsolidasian Merdeka juga tumbuh 64 persen secara tahunan menjadi US$ 1,40 miliar, dari US$ 855 juta pada semester I 2025. Sementara EBITDA melonjak 191 persen menjadi US$ 512 juta, dibandingkan US$ 176 juta setahun sebelumnya.

Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk Albert Saputro mengatakan penguatan profitabilitas terjadi di seluruh portofolio operasi perseroan.

“Kinerja semester I 2026 mencerminkan penguatan profitabilitas di seluruh portofolio operasi Merdeka, didukung oleh peningkatan kinerja bisnis nikel dan emas," jelas dia dikutip Minggu (27/9/2026).

Pada saat yang sama, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang merupakanadalah anak usaha dan bagian dari ekosistem PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) masih menjalani fase peningkatan produksi, dengan produksi yang diperkirakan akan lebih besar pada semester kedua tahun ini.

"Fokus kami tetap pada eksekusi yang disiplin, efisiensi operasional, serta kemajuan proyek-proyek pertumbuhan utama Grup untuk memperkuat penciptaan nilai jangka panjang,” ujar Albert.

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menjadi kontributor terbesar terhadap EBITDA MDKA, didukung peningkatan volume penjualan dan harga bijih nikel.

Produksi Emas

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). (Foto: Merdeka Copper Gold)

Dari sisi operasional, produksi emas Grup Merdeka meningkat 32 persen secara tahunan menjadi 66.814 ounce pada semester I 2026.

Tambang Emas Tujuh Bukit menjadi kontributor utama dengan produksi 49.402 ounce. Sementara itu, Tambang Emas Pani menyumbang 17.412 ounce setelah mulai beroperasi pada tahun ini.

Total penjualan emas juga meningkat 3 persen menjadi 61.561 ounce.

Pada bisnis nikel, MBMA mencatat produksi 15,2 juta wet metric tonnes (wmt) bijih nikel selama semester I 2026. Angka tersebut meningkat 121 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan bijih nikel juga tumbuh 60 persen menjadi 12,4 juta wmt. Peningkatan tersebut didukung utilisasi peralatan yang lebih tinggi, efisiensi pengangkutan, serta produktivitas yang lebih kuat di area tambang utama.

Kinerja pengolahan nikel turut menguat. Produksi dan penjualan Nickel Pig Iron (NPI) naik 20 persen secara tahunan, sementara produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) meningkat lebih dari dua kali lipat dan penjualannya tumbuh 72 persen.

 

Proyek Strategis

Tambang PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). (Foto: Merdeka Copper Gold)

Merdeka juga melanjutkan pengembangan sejumlah proyek strategis untuk menopang pertumbuhan jangka panjang.

Proyek Tembaga Tujuh Bukit telah memasuki tahap feasibility study. Sementara itu, Tambang Emas Pani terus meningkatkan produksi sekaligus mengembangkan proyek Carbon-in-Leach (CIL).

Pada lini material baterai, PT ESG New Energy Material melanjutkan peningkatan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). PT Sulawesi Nickel Cobalt juga terus memajukan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) menuju produksi pada semester II 2026.

Kontribusi Tambang Emas Pani diperkirakan semakin meningkat pada semester II 2026 seiring kenaikan laju penambangan, volume stacking, dan tingkat perolehan emas.

Meski kinerja operasional menguat, Merdeka tetap mencermati sejumlah faktor eksternal, seperti harga komoditas, biaya bahan bakar dan energi, nilai tukar, serta perubahan regulasi.

Perseroan akan menjaga fokus pada pencapaian target produksi, disiplin biaya, dan alokasi modal yang terukur seiring berjalannya operasi dan pengembangan proyek-proyek pertumbuhan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya